Ternyata Wungu Cagak merupakan nama lain dari Kampung Dadap. Maklum, saya merupakan warga baru di Kampung Dadap, Desa Ciagel, Kecamatan Kibin, Serang-Banten ini. Setelah saya telusuri, ternyata Wungu Cagak merupakan sebutan orang-orang dahulu untuk Kampung Dadap.

Saya pun makin tertarik untuk mencaritahu sejarah tentang nama Wungu Cagak ini. Sesepuh Kampung Dadap, Suryani (69) mengatakan nama Wungu Cagak diambil dari nama sebuah pohon, yaitu pohon Wungu.

“Jadi kampung ini dulu sering disebut Wungu Cagak. Dulu rumah-rumah di sini masih jarang, belum seramai sekarang. Tempatnya di samping musolah, ada pohon Wungu yang tumbuh di atas gundukan tanah. Di sana juga ada makam ki buyut. Pohon Wungu ini di bawah batangnya ada cagak atau semacam bolongan. Nah, orang-orang dulu sering bilang ‘mau ke mana? Mau ke Wungu Cagak,” cerita Suryani, kepada wartawan, Sabtu (6/8/2022).

Masih menurut Suryani, saat dirinya masih kecil, tempat tumbuhnya pohon Wungu itu sering dijadikan tempat bermain bersama anak-anak lain. Ada cerita, jaman kecil dulu setiap ada burung yang lewat di atas makam ki buyut ini akan jatuh dan mati. “Kadang saya juga sering lihat burung jatuh jika melintas di atas pohon Wungu ini,” cerita Suryani yang sudah memiliki 4 anak dan 12 cucu ini.

Seiring waktu, kini gundukan tanah tempat tumbuhnya pohon Wungu sudah rata. Tapi pohon Wungu masih ada dan terus tumbuh. Bunganya berwarna ungu. Buahnya kecil-kecil seukuran buah lengkeng. Tapi buah Wungu tidak bisa dimakan.
“Kalau silsilah siapa nama ki buyut, saya juga belum tahu. Dan terkait cerita-cerita lain tentag pohon Wungu saya kurang tahu. Karena sejak remaja sekitar tahun 1968 saya merantau ke Jakarta. Baru balik lagi ke kampung Dadap tahun 2007,” paparnya.

Di tempat yang sama, Luzen (49) warga Kampung Dadap menerangkan bahwa dulu beberapa orang pernah mencoba menebang pohon Wungu ini. “Tapi si penebang selalu kena musibah. Seringnya para penebang itu jatuh dari pohon Wungu. Jadi sampai saat ini tidak ada orang yang berani nebang pohon Wungu,” jelas Luzen.
Dijelaskan Luzen, anehnya pohon Wungu ini tingginya selalu tabil meski sudah bertahun-tahun. “Dan lagi, meski musin kemarau, pohon Wungu tetep tumbuh,” tutup Luzen. *


