Hari pertama memasuki Almaty. Seorang mahasiswa yang sulit kuingat namanya, menolong kami di terminal bus dengan memanggilkan taksi menuju hotel dan membayarnya.
Jordy dan Natasha mengganti uangnya. Dia menolak. Katanya, “Sesama muslim harus saling tolong menolong.”
Hari kedua saat salat Dzuhur di masjid Tole By, Almaty. Seseorang yang dari sejak wudhu mengajakku ngobrol, menolongku menalikan tali sepatu.
“Izinkan saya berbuat baik. Menalikan tali sepatu hal kecil. Tapi aku ingin melakukannya,” kata Muhammad Noor asli Kazhakstan.
Hari ketiga di Seker Cafe. Aku risih sekali ketika melihat hidangan di meja. Aku ingat pesan bijak jika kita ditraktir makan oleh orang: jangan pesan menu yang mahal-mahal.

Kata Dias, pemilik Seker Cafe, “Aku ingin memperlihatkan sisi lain dari Almaty. Izin saya melayani Anda sekeluarga. Saya ingin Anda melihat keseharian kami di Kazakhstan.”
.
Saya ingat peristiwa puluhan tahun lampau di Bangkok, 1991. Saat itu saya bertemu dengan orang Indonesia di Khao San. Dia menegur saya yang menolak dibayari makan olehnya.
“Kamu harus adil. Ada orang yang ingin berbuat baik kepadamu, jangan kamu tolak. Terima saja. Kemudian nanti, kamu lakukan hal yang sama kepada orang lain. Saya berharap dengan melakukan ini, ada juga orang lain yang memberi makan anak saya ketika sedang traveling seperti kamu.”
Di Singapura, sekitar 2015. Saya baru selesai salat subuh berjamaah di masjid Sultan, Kampung Arab. Saat saya berdoa menadahkan tangan, seseorang mengepalkan uang kertas 10 Dollar Singapura.
“Oh, no. Saya turis,” saya mengembalikan uang itu.
Orang berpeci dan berwajah Arab itu memelukku. “Plese, terimalah. Saya ingin bersedekah.”
Melihat mimik wajahnya yang serius, aku tidak tega. Tapi hati saya berontak. Saya ingat pesan Bapak-Emak, bahwa tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Jadi tangan di bawah juga mulia, karena sudah memberikan peluang kepada orang-orang yang tangannya berada di atas untuk lebih mulia.”
Jadi kisah-kisah kebaikan itu diperbolehkan untuk disebarkan sebagai syiar yang positif. Itu suatu saat akan berdampak baik bagi yang membacanya
29 Januari 2026
Gol A Gong
Traveler, Author



