Oleh: Zaeni Boli
Kultum subuh (29 Agustus 2026) baru saja selesai di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Denyut ekonomi justru hidup persis di depan Masjid Jogokariyan. Aneka jajanan dan oleh-oleh tersedia sepanjang jalan depan masjid, begitu pula jemaah yang entah dari mana saja. Sebagai musafir yang baru beberapa hari berada di kota ini, melihat serta menyaksikan bagaimana denyut kehidupan begitu hidup dan menghidupkan ekonomi warga sungguh pemandangan yang luar biasa.

Untuk memulai hari di pagi hari, saya mencoba kuliner paket nasi kuning + teh sereh dengan harga yang terjangkau untuk ukuran musafir. Nasi kuning yang terlihat sederhana ini begitu nikmat dirasakan, apalagi minuman sehatnya. Selain nasi kuning, tempat ini juga menyediakan aneka jajanan dan minuman, salah satu minuman kesukaan Sultan, Wedang Uwuh, yang kaya rempah. Jika berkesempatan ke Yogyakarta, datanglah ke Masjid Jogokariyan bagi kehidupan religius bersinergi dengan ekonomi warga.

Semangat ekonomi warga yang boleh diadaptasi oleh tempat lain di Indonesia untuk menghidupkan ekonomi warga secara mandiri dan kreatif.
Sambil menulis berita ini, saya menikmati suasana pagi hari di Masjid Jogokariyan. Menu nasi kuning yang saya sebutkan di atas tersedia di stan Dapoer R dan R.



