Secara umum, coto Makassar memiliki cita rasa gurih yang berasal dari rebusan daging, jeroan, dan rempah-rempah. Itu tidak salah. Melekat di lidah saya. Jangan lupa, ketupatnya. Tapi secara khusus, coto Makassar bagi saya adalah pergulatan rakyat jelata untuk memenuhi rasa laparnya. Kemudian seperti halnya angkringan, coto Makassar naik derajatnya.

Seperti ditulis detik.com, Coto Makassar adalah Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada pada tahun 2015. Melansir Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud RI Coto Makassar, kuliner ini diperkirakan telah ada sejak Somba Opu berjaya sebagai pusat Kerajaan Gowa pada tahun 1538.

Namun, keberadaan sambal tauco sebagai pendamping Coto Makassar menguatkan dugaan kalau makanan ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Cina yang memang sudah dikenal pada abad ke-16.
Nilai di lidah saya, 7/10.


