Dari rumah orang tua saya sekitar 20 menit. Setiba di lokasi kami langsung memesan 3 mangkuk bakso plus es gula arennya. Sayang selama kami menikmati bakso, sikecil Nussa justru tertidur pulas. Kalau sudah begini, mengingatkan kejadian kakaknya dulu, dari rumah minta main ke Giant pas nyampe Giant tidur akhirnya balik. Nyampe rumah bangun, langsung nangis nagih minta balik lagi ke Giant.

Benar saja, besoknya si Nussa tiba-tiba ngerengek minta bakso, bakso. Akhirnya kami mengurungkan niat balik lewat jalur Munjul karena harus ke Binuangeun terlebih dahulu. Kami tiba di kedai bakso ikan bang Opay pagi-pagi sekali, mungkin kami pengunjung pertama pada hari itu. Sementara istri dan anak-anak tengah menikmati makan bakso, saya foto-foto lokasi dan meminta ke mbak pelayan untuk bersedia saya tanya-tanya.

“Mbak, boleh ngobrol-ngobrol sebentar?”
Simbak hanya tersenyum sambil mengisyaratkan agar saya mendekati lelaki yang tengah dikerok di depan saya.

“Mau apa, Aa?” tanya lelaki tersebut.
“Oh, ini bang Opay, ya?” saya langsung menghampirinya.
“Iya, betul. Saya bang Opay,” ujarnya ramah, mempersilakan saya duduk di sampingnya.
“Wah, kebetulan, Bang. Kita ngobrol-ngobrol sebentar.”
“Oke, silakan!”

“Ngomong ngomong penamaan ‘Bang Opay’ itu julukan atau nama asli?”
“Panggilan akrab saya aja. Nama asli mah ‘Sarta’. Cuma nama itu udah hilang, orang manggil saya bang Opay aja. Nama Sarta berlaku di KTP dan urusan-urusan ke bank,” ujarnya sambil tertawa.


