Oleh: Wida, Relawati Rumah Dunia
Tahun 2024 telah usai. Begitu pula acara rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Rumah Dunia, yaitu Detik Akhir Detik Awal pada 31 Desember 2024. Saya baru pertama kali mengikuti dan merasakan acara ini, sekaligus langsung menjadi bagian dari kepanitiaan serta penikmat acaranya. Meski berbagai kendala dan kesedihan mewarnai prosesnya, terutama setelah kepergian kakak kami, Presiden Rumah Dunia, Bang Abdul Salam HS, yang meninggal dunia sehari sebelum acara, kami tetap melanjutkan kegiatan ini dengan beradaptasi pada situasi yang ada.


Entah apa alasan khusus saya mengikuti kepanitiaan ini. Awalnya, saya mengira hanya sekadar ingin mengisi waktu liburan semester yang panjang. Namun, semakin dijalani, semakin terasa ada daya tarik tersendiri. Apa yang saya dapatkan dari acara ini memang tidak sesuai dengan ekspektasi awal, tetapi justru menciptakan ruang baru untuk ekspektasi yang berbeda setelahnya.

Awalnya, saya diberi tugas untuk membuat tulisan berita tentang acara ini. Saya sempat meragukan kemampuan diri saya karena merasa belum punya pengalaman menulis. Namun, tugas itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih menantang—saya diminta menjadi pembawa acara. Saya sempat berpikir tugas ini jauh lebih sulit daripada menulis, tetapi pada akhirnya saya melakukannya bersama Kak Susi.
Pengalaman pertama menjadi pembawa acara rasanya seperti pengalaman awal siapa pun yang sedang berproses. Tidak sempurna, penuh ketegangan, ada kesalahan, dan kekakuan yang terus mengiringi.
Namun, yang paling berkesan bagi saya justru adalah proses di balik layar saat mempersiapkan acara. Dalam proses itu, ada canda dan tawa, perkenalan dengan banyak orang baru, serta lahirnya ide-ide segar di tengah keterbatasan.

Tugas saya dan teman-teman adalah membuat desain acara, termasuk dekorasi. Dengan dana yang terbatas, kami dituntut untuk memanfaatkan bahan yang sudah ada, seperti banner bekas dan kardus bekas. Banner dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi bagi para pengunjung untuk menulis atau menggambar tentang tahun 2024 mereka. Sebagian lainnya digunakan untuk menuliskan resolusi di tahun 2025. Kardus bekas kami sulap menjadi gambar-gambar karakter yang melengkapi area foto.
Hasilnya? Boom! Ternyata hasil kerja kami disukai para pengunjung. Dua hal ini tidak pernah sepi dari kerumunan. Anak-anak berebut untuk ikut serta. Ruang ekspresi di banner penuh dengan coretan yang beragam—ada yang menulis tentang kebahagiaan, kesedihan, atau kekesalan. Beberapa menuangkannya lewat kata-kata, sementara yang lain memilih gambar. Semua bercampur aduk di atas satu banner hingga banner lainnya.





Sungguh menyenangkan melihat begitu banyak cerita yang tertuang di sana, juga melihat orang-orang merasa lega setelah bisa mengekspresikan isi hati mereka. Apalagi anak-anak yang tampak gembira di ruang ekspresi yang memang disediakan untuk mereka. Meski proses pembuatan area ini penuh lika-liku dan tantangan, saya sangat menikmati setiap momennya.
Terima kasih kepada semua orang yang terlibat, dan kepada diri saya sendiri karena mau berproses di tempat yang baru. Semoga pengalaman ini terus berlanjut dan memberikan semangat baru di masa depan.



