Lingga Syahied: Kampanyekan Potensi Desa Lewat Lagu

Lingga bercerita, kenapa dirinya mencintai dunia musik, berawal dari suka mendengarkan lagu. Ditambah Ibunya seorang vokalis Qasidah pada zamannya. Sang ibu sering menyanyikan lagu-lagu kidung sunda zaman dulu, termasuk lagu-lagu Qasidah. “Menurut cerita bapak, saat ibu momong saya, beliau selalu menyanyikan kidung sunda. Sedang kakak-kakak saya suka memutar lagu genre melayu seperti lagu-lagu Malaysia dan Dangdut melalui Tape Record. Saat itu belum ada DVD apalagi platform music digital seperti sekarang. Nah dengan lingkungan keluarga penyuka musik, otomatis berpengaruh ke saya, saat SD juga saya sudah didaulat memandu Tim Paduan Suara, baik saat upacara maupun saat kenaikan kelas,”  kata Lingga kepada wartawan, Selasa (9/8/2022).

Saat beranjak dewasa, dunia Lingga tidak jauh dari musik. Di SLTA dia memiliki teman yang hobbi menyanyi. Di masa itu, Lingga juga terpilih menjadi personil Tim Qasidah Sekolah dan sering mendapat undangan untuk mengisi hajatan dari kampung ke kampung.

“Masuk jenjang SLTA saya membentuk Tim Nasyid bersama teman-teman, yang saat itu kita tidak punya pelatih. Tapi kami latihan sendiri dengan referensi yang sangat terbatas, karena saat itu belum ada facebook, youtobe dan medsos lainnya. Sampai saya masuk perguruan tinggipun demikian, saya masih greget untuk mengeksplor potensi diri dalam bidang tarik suara, sehingga saya bertemu teman-teman yang memiliki hobby yang sama sampai terbentuklah tim nasyid Kampus dan sering mengisi acara-acara kampus dan sampai mendapat undangan ke acara pernikahan dan event lainnya di luar kampus,” ujar laki-laki yang lahir pada 08 Austus 1987 ini.

Dari perjalanan itu Lingga akhirnya memutuskan tidak ingin melulu jadi pendengar dan penikmat lagu-lagu orang lain, maka ia mencoba membuat lagu sendiri dan lagu yang pertama ia tulis berudul “Jalinan Sahabat”.

“Karena saya tidak pandai bermain musik, pada akhirnya lagu itu hanya sekedar simpanan di memori saya karena tidak sampai diproduksi musik pengiringnya. Namun di detik-detik akhir perjalanan saya di kampus, saya menciptakan lagu tema Cinta Religi dengan judul ‘Tilawah Cinta’,” cerita ayah tiga anak ini.

Lain waktu Lingga mendapat informasi dari sebuah media cetak tentang Lomba Cipta Lagu Religi pada tahun 2014. Pihak penyelenggara adalah Republika bekerjasama dengan Kantor Pos Indonesia. Lomba dilakukan secara online.

“Alhamdulillah, lagu saya didaulat jadi Juara pertama. Dari situ saya mendapat spirit untuk terus menciptakan lagu-lagu tema Cinta dan Religi sampai akhirnya saya rilis lagu kedua dengan judul “Lukisan Cinta” yang dinyanyikan oleh teman saya yang juga mantan vokalis Wali Band pertama. Karena saya lahir berdarah Sunda, saya mencoba ingin menciptakan lagu berbahasa sunda. Selain itu sebagai upaya saya untuk “ngamumule” bahasa sunda, maka terciptalah lagu tentang Pandeglang dengan judul “Pandeglang Lembur Urang” karena saya mempunyai istri orang Pandeglang dan lama tinggal di Pandeglang,” paparnya.

Saat ditanya kenapa Lingga menyukai lagu daerah? Lingga menjelaskan, karena ia lahir dari darah sunda, dan lagu-lagu sunda itu unik, selalu khas menjadi musik yang mengesakan keindahan pedesaan dan panorama alam yang indah.

“Bahkan musik sunda bukan hanya dinikmati oleh orang Sunda sendiri, tapi suku-suku lainnya juga sering saya temukan saat mengadakan resepsi pernikahan selalu memutar lagu-lagu Sunda. Selain saya menyukai lagu sunda saya juga menyukai lagu-lagu daerah lainnya, seperti lagu jawa, minang, aceh, batak dan lain-lain. Nah kenapa saya suka dengan lagu daerah, karena bagi saya lagu daerah itu adalah refresntasi dari identitas kesukuan namun punya pesan yang universal,” terangnya.

Lingga mengaku, walapun ia berdarah sunda, ia selalu tersentuh dengan lagu-lagu dari daerah lain, walau hanya faham sebagian liriknya saja. “Tapi dengan irama musiknya kita bisa tahu bagaimana pesan lagu tersebut, seperti lagu-lagu Aceh, seringkali membuat saya menangis jika saya hayati, karena pesannya sangat menyentuh. Dan bagi saya lagu daerah itu adalah wujud dari kekayaan Indonesia yang memiliki keragaman suku, budaya, seni dan lainnya, hanya lagu lah yang bisa menyampaikan pesan kedaerahan, namun bisa diterima secara nasional. Saya juga senang menciptakan lagu daerah bertema potensi daerah, baik alamnya, sumber daya manusia dan kelebihan lainnya. Dalam hal ini saya ingin turut mengkampanyekan potensi daerah melalui lagu, terlebih dalam proses pembuatan video clipnya saya sertakan secara visual pesan dari lirik demi liriknya,” paparnya.

Dalam proses menulis lagu daerah, Lingga mengaku paling lama hingga 3 hari. Selebihnya ada yang kurang dari satu jam, bahkan hanya dalam hitungan menit.

“Itu proses menulis liriknya, karena seringkali saya mendapat inspirasi untuk menulis lagu saat mengendarai motor, saat nongkrong di suatu tempat atau saat mengikuti sebuah acara. Maka cara saya untuk merekam ide-ide itu adalah dengan segera menuliskannya di kertas, atau jika kebetulan tidak membawa alat tulis saya mengetik atau merekamnya lewat handphone. Namun untuk proses aransement musiknya memang cukup lama. Mulai hitungan mingguan bahkan bulan. Karena seringkali saat musuk sudah jadi, ada yang dirasa kurang pas maka butuh revisi dan penggubahan lagi,” jelas Lingga panjang lebar.

Lingga mengaku, teman-temannya sering menilainya aneh. Karena bisa membuat lirik lagu, tapi tidak bisa bermain musik. Tapi ia tak mengambil pusing. Ia sendiri mengaku entah ini sebuah kelebihan atau kekurangannya, karena ia menulis lagu itu memang hanya mengandalkan filling saja, dengan meraba-raba nada tanpa faham cordnya.

“Makanya saya sangat butuh partner arranger atau composer untuk memproduksi musiknya. Dan Alhamdulillah sejauh ini saya punya banyak partner untuk produksi lagu-lagu ciptaan saya yang humble dan mendukung karya-karya saya, ada yang hanya sebatas saya kasih uang buat pulsa, atau traktir makan, bahkan ada yang sama sekali tidak meminta bayaran. Saya memiliki partner arranger mulai orang Jogja, Bandung, Jakarta dan sekitar Banten,” terangnya.

Saat ditanya apa tantangan saat membuat lagu daerah? Lingga menjelaskan lagu daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri, bahkan Bahasa sunda pun memiliki ragam kaidah dan dialek. Bahkan artinya bisa berbeda-beda antara Sunda Banten dengan Sunda Bandung, Bogor dan daerah lainnya.

Karena Lingga mengangkat lagu daerah Sunda Banten, ia tidak lepas untuk berkonsultasi dengan seniman dan sastrawan Sunda Banten, seperti di lagu Pandeglang Lembur Urang, Lingga memgaku mendapat masukan dari beberapa sastrawan soal penggunaan suku kata tertentu, yang ternyata tidak tepat digunakan jika lagu tersebut merepresntasikan lagu Sunda Banten.

“Maka saya menggubah dengan kata yang lebih tepat. Ini tantangannya kita harus observasi dulu soal tema lagu. misal mau mengangkat potensi wisata daerah, maka saya harus pastikan bahwa wisata tersebut namanya betul atau ada nama lainnya, atau apakah termasuk wisata alam atau wisata buatan. Karena jika salah memasukkan daftar lokasi wisata maka bisa merusak maksud lagu tersebut. Termasuk penguasaan Bahasa itu sangat penting karena saya juga merasa terbatas dengan kemampuan Bahasa sunda khas Banten yang masih merasa terpengaruhi oleh Bahasa Sunda prahiyangan yaitu Sunda Bandung, Garut, Cianjur dan sekitarnya,” terangnya.

Lingga menjelaskan di tahun 2022 ini ia akan merilis 2 lagu, tema religi dan tema nasionalisme. Tema religi berjudul “Risalah Cinta”. Namun Lingga mengaku untuk lagu ini ia belum menemukan waktu yang tepat untuk rilisnya. Sementara untuk musik sudah rampung dibuat.

“Lagu yang tema nasinoalisme saya tetap menggunakan Bahasa Sunda Banten tapi temanya kebangsaan berjudul “Bhineka Tunggal Ika” dan Alhamdulillah akan dirilis sebelum tanggal 17 Agustus. Ini upaya apresiasi saya untuk menyambut hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-77 sekaligus kado buat saya sendiri yang bertambah usia. Semoga lagu-lagu karya saya memberikan pesan kebaikan dan menginspirasi banyak orang,” pungkasnya. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. MasyaAllah.. Semoga menginspirasi musisi lainnya agar menciptakan lagu2 berbasis local wisdom.. Bravo golagongkreatif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==