Tanpa saya duga kegiatan itu mendatangkan manfaat luar biasa kepada saya. Di badminton prestasi saya sebagai juara single, double, dan beregu di Pesta Olahraga Cacat se-asia Pasific di Solo (1985) dan Jepang (1989).

Kebiasaan membaca saya sejak SD (1976) menghantarkan saya kepada dunia menulis secara profesional. Saya pernah jadi wartawan di Kelompok Kompas Gramedia (1989-1992), Kartini Group (1993-1994), Indosiar (1995), RCTI (1996-2008), dan Banten TV (2008-2010). Hingga 2022, saya sudah menulis 126 buku.

Terakhir, menu dongeng sebelum tidur tanpa saya sadari membawa saya kepada petualangan beragam karakter orang. Panca indera selalu saya maksimalkan untuk memahami persoalan-persoalan di sekeliling. Saya juga jadi hobi traveling, melihat dan berinteraksi dengan hal-hal baru.

Saya jadi merasakan bahwa untuk menuju kesuksesan itu harus bekerja keras melewati proses panjang. Legenda Bandung Bondowoso dengan seribu candi atau Sangkuriang mengajarkan itu, bahwa tidak ada kesuksesan yang dibangun dalam 1 malam. Dan membaca bukulah yang membuat saya jadi memiliki iklim kompetisi.

Kemudian hal itulah yang saya tanamkan di Rumah Dunia, Serang-Banten. Saya ingin kesuksesan yang saya dapati ini prosesnya menular kepada anak-anak masa depan di Banten dan Indonesia secara luas. Buku ternyata membuatku berdaya. Ya, berdaya dengan buku. Alhamdulillah, saya tidak jadi beban masyarakat sebagai orang cacat di masa depan seperti yang dikuatirkan orang-orang.


