Mendengar itu, saya hanya bisa tersenyum sambil mengaminkan dan memberi motivasi Rayya untuk terus belajar. Rupanya ia benar-benar tekun bikin komik setiap hari dari belum bisa membaca sampai sudah bisa menggunakan teks ke dalam komiknya. Pengalamannya di sekolah, mendengar nasehat-nasehat kami, buku-buku yang ia habis baca, selalu ia alihwahanakan menjadi komik sesuka hatinya, dan kami selaku orangtua membebaskannya.


Saya dan istri hanya membantu menjawab kalau ia menanyakan hal-hal yang perlu ia tanyakan. Ketekunannya luarbiasa, sudah memasuki jilid buku ke-7 rata-rata lebih dari 100 lembar per buku. Tak jarang ia menolak saat disuruh tidur siang, nanggung katanya mumpung lagi ada ide.

Sebagai orangtua saya patut bersyukur, ia tidak keranjingan gadget dan memilih bikin komik aktivitas handycraft yang ia bisa. Tak jarang gunting jahit saya ia ambil, pulpen saya tintanya cepat habis, ia akan merengek minta dibuatin kertas buku kosong jika buku komiknya sudah mau habis. Saya memotong kertas A4 dipotong 2 dan menjilidnya. Jika sudah penuh sesekali membuatkan hard covernya. Semoga cita-cita Rayya kelak terwujud ya. Ia ingin kelak komiknya difilmkan seperti Film Nussa yang menginspirasinya hingga menamai adiknya ada kata Nussanya.
Anas Al Lubab



