Acara pertama adalah Kelas Berbagi Calon Guru Penggerak, yang merupakan acara presentasi dari perwakilan Calon Guru Penggerak berupa hasil pelaksanaan program mereka selama 6 bulan.
Presentasi pertama dilakukan oleh Rakhmawati, S.Pd. dari SD Evfia Land yang menjalankan Program Learning Exhibition.
Dengan berasumsi bahwa murid adalah aktor utama dalam sistem pengajaran, melalui komunikasi dua arah, mendengarkan pendapat mereka, dan menyediakan kesempatan untuk berdiskusi akan sangat mempengaruhi pada hasil pembelajaran keberhasilan anak.

Nilai bukanlah faktor utama, namun hasil pembelajaran dilihat dari proses pembelajaran anak tersebut. Sesuai dengan yang dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara, “Anak memiliki cara belajarnya sendiri, setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda-beda”. Sehingga peran guru adalah sebagai fasilitator terbaik bagi murid untuk dapat belajar secara maksimal.
Konsep pembelajaran non komersial juga penting, untuk melihat atau menggali potensi lain si anak selain di bidang akademik. Tujuan dari Learning Exhibition adalah untuk memfasilitasi murid untuk mendemonstrasikan hasil pembelajaran di kelas untuk diterapkan secara nyata di luar kelas dan dalam kehidupan sehari-hari untuk melatih kreativitas dan kepercayaan diri.

Capaian atau hasil yang diharapkan melalui program ini adalah meningkatnya kreativitas dan kepercayaan diri anak, membangun student agency, meningkatkan iklim kolaborasi di kelas dan pemanfaatan secara maksimal fasilitas sekolah untuk belajar. Bentuk akhir program ini adalah presentasi dari anak-anak yang menjelaskan kembali hasil diskusi mereka sebagai satu kelompok.
Program kedua dilanjut oleh Sukardiyono dari SMK Pertanian atau SMAN 8 Kota Serang, dengan programnya, Agen Kebersihan Lingkungan Sekolah (AKELISE).
Faktor lingkungan yang diambil adalah sebagai alasan untuk memberikan kenyamanan lingkungan belajar. Dengan luas sekolah (tanah sebesar 6,3 ha), kurangnya tenaga pembersih lingkungan, dan kurangnya sistem pengelolaan sampah menjadi dasar kegiatan ini.

Adanya keterlibatan siswa, yang turut berperan dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan dan adanya pengelolaan sampah sebagai hasil dari nilai tambah dari penanganan sampah di lingkungan sekolah ini.
Program AKALISE terdapat 3 jenis program: Piket Jurusan, penerapan program piket di luar sekolah, yang disesuaikan dengan jurusan masing-masing, Asisten Lab, bertanggung jawab atas kebersihan ruangan lab baik sebelum terutama sesudah digunakan, dan Piket lapangan yang melibatkan peran organisasi-organisasi di lingkungan sekolah.
Adanya sistem kompetisi dalam program ini, dengan diumumkannya kelas terbersih dan terkotor dengan bendera putih-hitam yang diumumkan saat setelah upacara selesai. Penyuluhan program pengolahan sampah menggunakan influencer, melalui media sosial, dan kampanye langsung.


Hasil dari pengolahan sampah ini adalah sampah organik yang menjadi kompos dan media tanam. Hasil pengolahan lainnya adalah Ecobrick, media tanam hidroponik, tanaman pot, dan penjualan hasil sampah daur ulang. Alat yang digunakan adalah mesin pencacah dan bengkel las, bekerjasama dengan jurusan yang sesuai dengan kemampuan di bidangnya, seperti dengan Jurusan Teknik Mesin.
Yang terakhir ada program SAPU LIDI (Satu Pekan untuk Literasi Digital) SMP 16 Kota Serang oleh Syifa Ayu. Program ini dilatarbelakangi sebagai upaya untuk mengimbangi kemajuan zaman dan teknologi yang semakin canggih, melalui program ini diupayakan penggunaan teknologi semaksimal mungkin sebagai aset dalam pembelajaran.
Didasari oleh kejenuhan anak murid yang belajar monoton sehingga dicetuskan program literasi digital. Alasan memilih program ini adalah untuk integrasi teknologi, motivasi belajar, jadi senang belajar dan efektif menggunakan hp untuk belajar, menyeimbangi kemajuan Teknologi. Tantangan dalam program ini disebutkan seperti: keterbatasan HP, jaringan internet dan data seluler Siswa (wifi sekolah yang ngadat), dan kurangnya sumber literasi digital untuk perpustakaan digital ini.

SAPU LIDI (PERPUSTAKAAN DIGITAL) tidak lagi menggunakan atau Mengumpulkan kertas hasil belajar, namun disimpan secara digital dan dapat diakses oleh semua Siswa/I ataupun guru yang membutuhkan, dengan sistem scan kode barcode yang disediakan oleh guru, scan kode barcode diakses dengan scan melalui hp masing-masing dan bisa dapat langsung membuka File pembelajaran yang dituju. SAPU LIDI ini menjadi media pembelajaran digital hingga absensi pun dapat dilakukan melalui satu website itu.
Contoh bentuk penerapannya adalah siswa/i mereview kembali hasil pencarian literasi yang mereka dapatkan, menuliskan resensi, lalu adanya respon timbal-balik dari panitia SAPU LIDI (guru terkait dan beberapa siswa/i pilihan) karya berupa portofolio yang dapat disimpan/dipajang di mading (majalah dinding) ataupun secara digital dengan upload file data di Perpustakaan Digital tersebut dan menjadi portofolio digital.
Perpustakaan digital menggunakan website Google Suites. Dalam website SAPU LIDI ini didalamnya terdapat data dokumen (materi pembelajaran dan hasil pembelajaran tulis anak), video (media literasi), kumpulan novel dan komik, dan games edukasi. Penggunaan Google Sites ini dipilih karena murah dan tidak berbayar.
Web dipegang oleh Syifa sendiri sebagai admin dan editor. Peserta didik dapat menjadi kontributor dalam program SAPU LIDI INI dengan mengirimkan hasil karya tulisan atau media mereka sehingga website ini juga menjadi platform portofolio mereka. Penyaringan konten seperti media ataupun karya tulis ilmiah dari peserta didik, dikurasi terlebih dahulu oleh Syifa.
Setelah pemaparan dari 3 Calon Guru Penggerak (CGP) terpilih, acara selanjutnya adalah Pameran ‘Festival Panen Hasil Belajar” yang berisi tentang sejarah pendidikan, konsep pembelajaran yang diajarkan oleh BPG, dan gaya pengajar ajaran BPG terhadap teknik pendidik, berupa hasil presentasi kelompok CGP angkatan 10 ini (Kelas A-G).


