HKP bermula dari usulan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI yang disampaikan kepada Presiden Soeharto pada 11 Agustus 1995. Usulan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih rendah dibandingkan negara lain. Presiden Soeharto merespon usulan tersebut dengan positif dan meresmikannya pada 14 September 1995.

Setelah Soehato lengser pada 1998, apakah perpustakaan di daerah-daerah atau di kota kita sendiri ramai didatangi orang? Tidak perlu datang ke perpustakaan? Cukup di rumah saja membaca buku digital? Bagaimana menurut kamu?
Apakah perpustakaan masih berperan penting dalam memajukan pendidikan, penelitian, pengembangan kepribadian, etika? Apakah masyarakat bisa berkembang tanpa perpustakaan? Kata orang pintar, pendidikan yang baik dan persyaratan utama sistem pendidikan adalah pengetahuan yang tersedia dalam buku-buku yang notabene terkumpul di perpustakaan. Mahasiswa sangat membutuhkaan referensi untuk tugas-tugas kuliah, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir dalam menyelesaikan tugas skripsinya.


Bagi saya sebagai Duta Baca Indonesia, perayaan Hari Kunjung Perpustakaan tetap perlu. Itu untuk mengingatkan dan memotivasi, bahwa perpustakaan bukan sekadar gedung tapi juga sumber ilmu pengetahuan.

Perlu dipikirkan bentuk perayaan Hari Kunjung Perpustakaan. Jangan melulu seremonial tapi juga ada praktik baiknya, misalnya peluncuran dan bedah buku, pertunjukan seni berupa alih wahana seperti pembacaan dan musikalisasi puisi, pemutaran film pendek. Lomba-lomba juga perlu diadakan seperti menulis resensi buku, lomba membuat kampanye membaca dalam bentuk video atau poster digital.
Silakan dicoba.
Gol A Gong
Duta Baca Indonesia 2021-2025
*) Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat



