Oleh Ardian Je
Mungkin kita sudah tak asing dengan nama Joker. Saya sendiri mengenal nama itu saat SD, saat mengenal permainan kartu remi dan kiukiu, dan juga dalam film Batman—meski saya tak pernah selesai menonton satu pun filmnya.
Dalam permainan kartu remi, Joker adalah kartu yang biasanya digambarkan seperti badut, pelawak atau karakter lucu. Wajahnya selalu menampakkan senyum yang lebar: lucu namun menyeramkan. Biasanya orang licik tersenyum sempit, tapi ia tersenyum lebar.
Ia bukan angka. Ia—dalam gambar—dibuat dengan garis yang luwes, tidak kaku seperti kartu Jack, King ataupun Queen. Dan jumlah kartu Joker dalam satu set kartu remi hanyalah dua, sementara yang lain empat dalam bentuk sekop, hati, wajik dan keriting. Fungsi joker dalam permainan kartu adalah sebagai wild card—pengganti kartu apa saja. Ia bisa menjadi kartu paling kuat. Jika seorang pemain kartu punya satu kartu Joker saja, ia bisa memenangkan permainan. Dan celakanya, kartu itu hanya bisa diimbangi dengan kartu Joker lainnya.

Sementara dalam komik dan film, Joker adalah karakter fiksi penjahat. Ia adalah musuh besar Batman. Joker adalah tokoh dengan kepribadian gila, tak terduga, dan biang onar kekacauan. Wajahnya putih pucat, rambut hijau, dan senyum merah lebar. Ia tidak hanya suka uang atau kekuasaan, tapi juga suka menguji moralitas orang lain.
Anas Al Lubab, seorang penulis sakligus guru yang gemar menggambar dan membuat sketsa, juga punya Joker-nya sendiri yang bisa kita nikmati dalam sebuah buku berjudul Hikayat Joker.
Hikayat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta.
Padanan kata hikayat dalam Tesaurus Alfabet Bahasa Indonesia (2009) antara lain babad, cerita, dongeng, kisah, peristiwa, riwayat, sejarah, tambo, tawarikh.
Sementara hikmah (dalam KBBI), merupakan kebijaksanaan (dari Allah Swt.); kesaktian; sakti; arti atau makna yang dalam; makna yang terkandung di balik suatu peristiwa; manfaat.
Dari pengertian beberapa kata tadi, Hikayat Joker karya Anas yang sedang kita diskusikan ini merupakan prosa sangat pendek yang berisi cerita dan nilai-nilai keagamaan juga kritik sosial. Secara bentuk dan isinya kurang-lebih seperti itu.
Joker Versi Anas
Karakter Joker versi Anas ini tentu tak sema dengan Joker dalam permainan kartu remi dan juga dalam DC Comics maupun filmnya. Joker dalam Hikayat Joker adalah Joker yang mensyiarkan nilai-nilai keislaman dan kebaikan secara universal dan sesekali mengkritik-mencibir para pejabat-penguasa.
Joker yang diciptakan Anas ini adalah sesosok makhluk yang mirip dengan ustaz dalam ucapannya dan pengamat politik dalam pikirannya, sosok yang jarang ada dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Dalam realitas kita, kebanyakan ustaz hanya fokus pada pengajaran dan pelaksanaan ibadah ritual, namun cenderung tak paham soal politik dan terkadang malah dimanfaatkan oleh para poltikus (semoga para politikus yang memanfaatkan para ustaz diberi kesadaran atau diazab!).
Joker versi Anas ini selalu menyeru untuk berbuat baik dan beribadah dengan tekun. Ibadah yang dimaksud di sini bukan cuma soal ibadah ritual, tetapi juga ibadah lain yang dipraktikkan secara langsung dalam setiap detik kehidupan manusia: berpikir, berkata dan berprilaku sesuai norma-norma agama dan sosial.
Joker versi Anas bisa berbicara tentang kiamat dan apa-apa yang terjadi di hari itu bagi orang-orang dengan perilaku tertentu di dunia, menyinggung pejabat publik yang punya jargon aje kendor (warga Kota Serang pasti tahu!), mengenai iman, kebahagiaan, mudik, dan seterusnya- dan seterusnya.
Di dalam bukunya ini, tokoh Joker hampir selalu bertemu dan berdialog dengan Anas, sang penulis, sang pencitpanya. Dan lucunya, Anas yang bertitel sebagai penciptanya malah mendapatkan pencerahan pikiran dan jiwa dari Joker, tokoh yang diciptakannya sendiri. Tidak hanya diberikan pencerahan, Anas juga sering dikerjain oleh si Joker, padahal sejatinya ia sedang bermain-main dengan pikirannya sendiri. Gelo gak, tuh?!
Dengan bahasa yang agak gaul, jumlah kata-kalimat-paragraf yang relatif padat-singkat-jelas (tak seperti sambutan kebanyakan pejabat yang bertele-tele, muter-muter dan bikin puyeng), Joker selalu mencoba menyadarkan kita agar menjadi manusia yang baik, taat beribadah, menahan segala keserakahan dan hawa nafsu yang membinasakan diri sendiri dan orang lain. Dan di setiap teks yang dikisahkan selalu ada hikmah yang bisa dipetik.
Rumah Baca Bojonegara, 6 Juni 2026 01:50

Ardian Je, pencinta One Piece karya Eiichiro Oda. Ia kini punya satu naskah buku kumpulan esai dengan jumlah 50 esai, yang hampir seluruhnya telah dimuat media massa. Semoga ada penerbit yang kepincut ingin menerbitkannya.


