Oleh Anas Al-Lubab
Judul buku : Satu Kisah Dua Pencerita
Penulis : Toto ST Radik
Penerbit: Epigraf
Cetakan: 2025
Tebal : 158 halaman
Mengunyah butir-butir cerpen hasil godogan tangan kreatif Toto ST Radik sangat kental terasa manis, asin, pahit, bumbu rempah khas Banten. Itulah mengapa ulasan ini saya beri judul Wajah Banten dalam Balutan Fiksi.
Sebagai penyair yang terbiasa ringkas diksi tangkas deskripsi, Toto lihai meramu cerita pendek yang asyik menggelitik sekaligus rimbun otokritik. Ia dengan piawai merekonstruksi kesaksian pribadinya terhadap perkembangan Banten semenjak “bercerai” dari Jawa Barat lengkap dengan potret karat roda pemerintahannya yang tak banyak berubah hingga hari ini.
Cerita-cerita di buku ini rasanya masih relevan untuk kita renungkan meski usianya sudah 12 tahun semenjak pertama kali terbit oleh Pasamoan Sophia dan Parspratoto (2013), hingga kini dipublish ulang oleh penerbit Epigraf (2025).
Cerita dibuka dengan gambaran Euforia pesta rakyat di jalan-jalan sebagai provinsi baru yang lepas dari Jawa Barat (Belewuk dari Jabarut) yang dapat kita longok di cerita (Negeri Belewuk). Cerita bergulir menyindir “ompongnya” kekuasaan dengan pragmen kisah wabah gigi ompong yang berujung klise yakni janji manis pembagian gigi palsu berbahan emas, hingga wartawan pun sebagai harapan terakhir penjaga demokrasi ikutan mencopot gigi demi gigi emas sebagai pengganti, dengan ending ikut pesta joged-joged. Rupanya kalau ada masalah jogedin aja bisa jadi idenya dari sini, lihat (Gigi dan Goyang Dombret).

Kekonyolan para pemimpin nirkompeten yang hanya bisa menjanjikan makan serabi gratis mengingatkan situasi dan kondisi pola pemerintahan hari ini (Petruk jadi Bupati) hal ini sejempol se-scroll-an dengan nasihat yang menyatakan “Melimpahkan wewenang kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kekonyolannya”.
Budaya permisif laku korupsi para pemimpin versus bisikan nurani ajudannya yang hatinya terguncang karena menerima uang dari bosnya sementara anaknya menantikan baju baru di rumah sangat menyentuh hati (Baju Baru buat Lebaran), sikap hedonis para pemimpin yang hobi belanja mengikuti trend dan hobi (jajan pistol) di bumbui dialog satir hantu gentayangan (Ratu Pistol), imej jawara yang kental dengan kekerasan dan intimidasi yang harus dibunuh oleh anaknya sendiri (Diselesaikan oleh Khidir). Dunia santet yang dahulu lekat dengan Banten berhasil digambarkan dengan mencekam dan mengerikan (Teluh)
Sebelas cerita di buku ini, ibarat tim kesebelasan dalam sepakbola yang saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. Lewat selusin kurang satu cerita yang Toto ST Radik sunggi, kita bisa mereguk banyak hal.

Eksplorasi dan eksperimentasi cara berkisah (Satu Kisah dua Pencerita) meski teknik seperti ini bukan untuk pertama kali. Rekonstruksi gaya nyentrik filsuf Yunani yang banyak memantik kesadaran dan upaya Toto “mempertanyakan” keimanan kita hari ini (Sokrates atawa Telunjuk Miring di Kening dan Ayat Perempuan).
Monolog satir penyadaran dan pencerahan hidup keseharian kita yang penuh borok yang kerap berlindung dibalik kata-kata baik dan bijak sangat menampar kesadaran (Lelaki Baik dan Kata-kata).
Buku kumpulan cerpen Toto ST Radik ini perlu dibaca oleh siapa saja yang ingin bercermin melihat dengan jernih bagaimana wujud asli wajah kita yang sesungguhnya, meski antara fakta dan fiksi hari ini silang sengkarut begitu sulit membedakannya.

RAK BUKU adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.


