Tonggak Sejarah Sastra (Puisi) di Banten

Jelang Hari Buku Sedunia (23 April) dan Hari Buku Nasional di Banten (26-30 Mei 2021), saya akan memposting di seluruh akun medsos saya tentang sejarah (literasi) perbukuan di Banten. Ini bertujuan agar masyarakat tahu, bahwa di Banten dipenuhi para penulis setelah Sheikh Nawawi al-Bantani (1813-1897), dan Husein Djayadiningrat (1886-1960). Jadi sangat pantas Banten ditunjuk sebagai yang pertama menggelar perayaan Hari Buku Nasional.

Untirta Serang mendukung total. Perayaan buku ini akan terpusat di kampus baru Untirta, Sindangsari, Kabupaten Serang.

Edisi kali ini dari koleksi buku di Museum Literasi Gol A Gong, saya memposting buku antologi “Indonesia Setengah Tiang” (IST). Itu lomba manuskrip buku puisi oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) tahun 1998. Toto ST Radik jadi pemenang. Manuskrip itu dibukukan okeh Komunitas Sastra Indonesia awal 1999 dan diluncurkan di PDS. HB. Jassin, TIM Jakarta. Buku puisi IST memperoleh “award” sebagai Kumpulan Puisi Terbaik / Penyair Terbaik 1998.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Para Pemimpi di Banten

Happy birthday, Maulana Wahid Fauzi (si Uzi) . Saya tulis ini Senin 22 Februari 2021. Kami berempat – Toto St Radik , Andi Suhud Trisnahadi, si Uzi , dan saya memulai dunia Kreativitas di Banten (minus Tangerang) sejak 1990-an bersama para sahabat di Cipta Muda Banten.

Kami para pemimpi. Mimpi kami setinggi mungkin. Kata Bung Karno, “Mimpilah setinggi langit. Jika pun engkau jatuh, jatuh di antra bintang-bintang.” Puitis sekali.

Hingga kini. 2021, kami terus bermimpi setinggi-tingginya.Alhamdulillah, hingga sekarang kami masih terus bergelut di sini. Jurnalistik, sastra, dan film. Kini kami merambah ke penerbitan, tanaman hias, dan kuliner hehehehe. Tentu berkat support para sahabat.

Pesan kami kepada yang muda, jangan menjiplak, saling dukung jika ada teman yang berkarya. Tetap semangat.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Royal Tempat Nongkrong Anak Muda Serang

Foto ini diunggah Toto ST Radik di akun FB-nya pada 2 Januari 2021. Puisi-puisi Toto dominan membuka setiap episode di Balada Si Roy. Toto menulis di status, “Ini foto diambil bulan Maret 1990. Saya dan Golagong Penulis sering nongkrong di seruas jalan yang lebih dikenal dengan sebutan Royal. Setiap malam minggu, menghabiskan waktu di sini. Begitu pula Si Roy dalam serial Balada Si Roy. Apakah adegan ini akan muncul dalam film Balada Si Roy? Kita tunggu saja .”

Royal ibarat Dalem Kaum Bandung, Losari makasar, dan Maliboro Yogyakarta. Seruas jalan dengan bioskop Merdeka dan pertokoan. Tak ada lagi tempat seasik selain Royal di Serang. Tentu berbeda setelah Banten jadi provinsi. Anak muda Serang nongkrongnya ke Mall of Serang atau di Cilegon yang lebih banyak mall-nya.

Saya nongkrong di Royal bukan sekadar nongkrong. Kepala saya berpikir terus. Pulang ke rumah, saya selalu mencatatnya sejak 1980-an. Di novel Balada Si Roy, dengan setting 1984, Royal termasuk setting lokasi utama. Tokoh Roy dan gengya nongkrong di Royal. (GG)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Bagaimana Menghidupkan Puisi Pembuka di Film Balada Si Roy

Sebagai anak Sastra UNPAD Bandung, 1982-1985, secara moral saat itu saya prihatin menyadari puisi berjarak jauh dengan anak muda Indonesia. Karya pertama saya adalah puisi (1981). Itu sebab saya ingin puisi dikenal secara luas. Strategi yang saya ambil adalah menyelipkan puisi di novel Balada Si Roy. Saya dengan sadar membidik pembaca remaja dan memilih Majalah HAI, karena distribusinya menyentuh kota-kota di seluruh Indonesia.

Selain saya mengutip penulis dunia, saya juga meminta bantuan kepada Toto St Radik , Rys Revolta, Tias Tatanka , Dang Suganda, Dadi RSn, dan Heri H Harris. Tentu puisi-puisi Toto ST Radik memberi warna tersendiri dan paling sering dikutip oleh pembaca. Konon para remaja bandel waktu itu, sering menggunakan puisi Toto ST Radik untuk merayu cewek.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Toto ST Radik: Kami Outsiders

Saat IDN Pictures menggelar konferensi pers mengenai film Balada Si Roy dan mengumumkan para pemainnya pada Rabu, 16 Desember 2020 mulai pukul 14.00, saya menontonnya via akun youtube IDN Media dari dalam bus yang melaju di bawah hujan menuju Ciamis. Airmata saya menitik. Mengalir perlahan. Merambat hangat seperti menapaki sepenggal sejarah.

Sejak 1988 saya bersama Balada Si Roy, dan jauh sebelum itu saya satu SMP dengan pengarangnya: Gol A Gong. Juga kemudian satu SMA. Berpisah sebentar (karena dia kakak kelas satu tahun) dan bertemu kembali di Bandung. Berpisah lagi bertahun-tahun sebelum akhirnya bertemu kembali pada 1987 di Alun-alun Kota Serang bersama Rys Revolta, juga kawan satu SMA. Saat itu kami sama-sama “gagal” kuliah dan pulang ke kampung halaman dengan penuh geram sebagai outsiders.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Tiga Menguak Tabir Banten

Gol A Gong, Toto ST Radik, dan Rys Revolta sudah berteman sejak di SMPN 2 (1979) dan SMAN 1 (1982) Kota Serang. Mereka memiliki mimpi yang sama, yaitu membangun peradaban baru di Banten lewat membaca dan menulis. Mereka bermimpi membangun tempat berkumpul anak muda Banten. Ini seperti kredo yang Toto tulis: simpan golokmu, asah penamu. Setelah lulus SMA, mereka berpencar.

Mereka berkumpul lagi setelah novel Gong yang berjudul Balada Si Roy (1988) dimuat bersambung di Majalah HAI. ketiganya meninggalkan bangku kuliah. Gong kabur dari FASA Indonsia UNPAD Bandung, Toto hengkang dari STKS Bandung, juga Rys mabal dari FASA Perancis UNPAD Bandung. Mereka terinspirasi Ajip Rosidi, yang memilih tidak meneruskan ujian di SMA. Mereka membangun Komunitas AzetA (1989). Menerbitkan buku puisi “Jejak Tiga” dengan mesin stensilan. Berlanjut ke penerbitan Tabloid Banten Pos bersama Maulana Wahid Fauzi, dan Andi Suhud.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5