Oleh: Naufal Nabilludin-Relawan Rumah Dunia
Tanggal 30 Desember 2024 kemarin, saya mewakili Rumah Dunia berkesempatan untuk berbagi praktik baik literasi di acara peresmian gedung Kantor Bahasa Banten. Saya diminta untuk menceritakan kegiatan yang dilakukan Rumah Dunia yang terselenggara atas program Bantuan Pemerintah untuk Komunitas Penggerak Literasi 2024 melalui Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikbudristek.
Saya ditemani oleh Lidya, Duta Baca Kota Serang sekaligus pengurus TBM Jawara, komunitas literasi yang juga menjadi penerima bantuan yang sama. Kami berdua berbagi cerita, pengalaman, dan pelajaran yang didapat selama menjalankan program bantuan pemerintah ini.


Ada lebih dari 300 komunitas literasi di Indonesia yang menerima bantuan, masing-masing mendapat nominal sebesar 50 juta rupiah.
Rumah Dunia, menyelenggarakan tiga kegiatan utama dari dana tersebut, meliputi: Workshop Menulis Esai untuk para pegiat literasi, Workshop Menulis Cerpen untuk pemuda, dan Workshop Mendongeng bagi ibu-ibu dan guru TK.
Setiap kegiatan kami rancang untuk menghasilkan dampak nyata, memperkuat literasi di berbagai lapisan masyarakat, dan, yang terpenting, menanamkan cinta terhadap dunia baca tulis.
Saya dan Lidya secara bergantian menjelaskan bagaimana prosesnya, mulai dari penyusunan proposal, pendampingan, pelaksanaan kegiatan, hingga pelaporan.
Semua kami jalani dengan penuh tanggung jawab, karena kami tahu, bantuan ini adalah investasi pemerintah untuk masa depan literasi bangsa. Meski hambatan selalu ada, terutama soal administrasi dan pelaporan yang cukup komplek.
Di sela-sela penjelasan, saya mengingatkan peserta yang hadir bahwa komunitas yang sudah menerima bantuan ini tidak bisa mendapat bantuan serupa di tahun berikutnya, kecuali dengan kategori yang berbeda, misalnya kategori komunitas sastra.
Ini adalah peluang besar bagi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) atau komunitas lain yang belum pernah menerima bantuan untuk mempersiapkan diri lebih baik di tahun mendatang.
Saya menekankan pentingnya memulai dari sekarang: mempersiapkan berkas administrasi seperti akta notaris, rekening bank atas nama TBM atau komunitas, serta memahami juknis penyelenggaraan dari tahun sebelumnya.
Berjejaring dengan komunitas lain juga sangat penting untuk mendapatkan informasi terkini dan berbagi pengalaman.
Di akhir sesi, saya menyampaikan pesan sederhana kepada para peserta.

“Jangan sia-siakan bantuan yang telah disiapkan pemerintah ini. Dengan dana yang ada, kita bisa menciptakan program-program literasi yang berdampak nyata, yang bisa membantu meningkatkan minat baca dan kecintaan masyarakat terhadap buku,” ujar saya.
Hari itu saya merasa bersyukur bisa berbagi cerita, sekaligus belajar dari komunitas lain yang memiliki semangat luar biasa untuk terus bergerak di bidang literasi.
Semoga bantuan seperti ini terus menjadi pemantik bagi tumbuhnya komunitas-komunitas baru yang berkontribusi membangun masyarakat yang lebih cerdas dan gemar membaca.



