Mencicipi Teh Talua Kapatoman di atas Perahu yang Terdampar di antara Bukit-bukit

Sekitar 5 kilometer dari Bandar Udara Minangkabau, kami harus segera mengisi perut yang mulai keroncongan. Selepas pertigaan Padang-Bukittinggi mobil jemputan yang disiapkan panitia, kami minta berhenti di Rumah Makan Terrace Mama, di Batang Anai. Tentu menu yang kami pilih adalah nasi padang. Sebab sepanjang jalan dari bandara berjajar rumah makan nasi padang.

Aku memesan daging cincang dan perkedel kentang, sedangkan Gol A Gong memesan gulai kepala ikan dan daging cincang. Oh iya, selain kami berdua di mobil juga ada Raja Asdi, dari Yayasan Generasi Lintas Budaya. Raja memesan gulai ikan laut. Sedangkan Ramadoni, driver pemerintah Provinsi Sumatera Barat, yang menjemput kami hanya memesan es teh manis. Ia sudah makan katanya.

Aku kaget ketika membayar semua makanan, hanya Rp. 85.000. Tiga porsi makan, ditambah 5 kerupuk, dan 4 es teh manis. Dugaanku akan lebih dari Rp. 100.000.

“Ini lumbungnya nasi padang. Bahannya melimpah. Jadi wajar kalau murah-meriah. Kita syukuri,” seru Gol A Gong. “Sekarang kita ke air terjun Lembah Anai!”

Singkat cerita kami tiba di Hotel Novotel, Bukittinggi. Saya dan Gol A Gong dijemput oleh Sri Eka Handayani, pengelola Rumah Baca Anak Nagari bersama keluaranya. Kami diajak mencicipi kuliner khas Minangkabau.

Kami dibawa ke Kapatoman, di Kabupaten Agam untuk mencicipa teh talua. Jalan menuju sana naik-turun, dan berkelok-kelok. Setelah tiba, kami disarankan memesan Teh Talua toping tapai oleh Hasan, suami Sri Eka. Kami mengiyakan. Datang ke satu daerah belum lengkap rasanya jika belum mencicipi kulinar khasnya.

Begitu pesanan datang aku langsung meneguknya. Teh talua yang diaduk dengan telur ayam, gula, dan ditambahi tapai dari singkong terasa legit di tenggorokan, teksturnya lembut seperti bubur bayi. Tidak seperti teh pada umumnya, barangkali karena diaduk dengan tapai. Teh talua di kapatoman Kabupaten Agam. rasanya nikmat sekali. Apalagi diminum selagi hangat. Kami menikmati teh Talua di antara bukit-bukit dengan hawa yang sejuk. Sungguh pengalaman yang luar biasa, menikmati wisata alam sekaligus kuliner di Minangkabau.

Kafe Kapatoman berbentuk menyerupai perahu kayu, yang terdampar di antara bukit-bukit. Nongkrong dan makan di sini memberi pengalaman baru bagiku, keindahan alam, serta menu khas Minangkabau yang disuguhkan. Datang ke Kapatoman tidak hanya kulinernya yang bisa kita nikmati, kita juga bisa berswafoto untuk konten sosial media kita karena bentuk bangunan dan alam yang unik serta instagenik.

Harga makanannya terbilang bersahabat dengan kantong. Akse menuju Kapatoman hanya 10 menit menggunakan kendaraan pribadi dari pusat kota Bukittinggi. Suasana berbeda akan kita rasakan ketika berada di sekitar area Kapatoman. Damai, tenang dan nyaman itulah suasana yang dapat kita rasakan. Hawa sejuk berbalut pemandangan hijau yang alami di sekitar cafe, juga gemericik air sungai bakal membuat pengunjung tenang dan betah berlama-lama di ini.*

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==