Menemukan Semangat Menulis Lagi Setelah Bertemu dengan Forum Lingkar Pena

FLP
Seusai percakapan “aneh” dengan Mutmainah itu, di otak saya langsung berkelebatan, bahwa ada apa gerangan di balik “percakapan telepon” itu? Lama saya terpekur di hotel saat itu, memikirkan tentang “cerita islami”. Juga tentang majalah “Annida”. Saya sudah tidak sabar lagi ingin cepat-cepat ke Jakarta. Ada arus yang sangat kuat menarik saya waktu itu. Ada rasa ingin tahu yang besar menggelora di dalam dada.

Rasa ingin tahu saya mendapatkan jawaban ketika keesokan harinya telepon berdering lagi. Kali ini Halfino (menejer penerbitan Asy Syaamil waktu itu) memperkenalkan diri dan meminta saya untuk mengirimkan manuskrip cerita yang bernafaskan Islam. Saya bergetar saat itu. Saya berada di puncak keharuan, karena pencarian saya selama ini menemukan jawabannya. Apalagi saat Halfino memberi tahu, bahwa 50% dari royalti yang akan saya terima disumbangkan ke proyek kemanusiaan di Maluku, yang sedang bergolak saat itu. Subhanallah!

Sepulang dari Puncak, saya temui Boim Le Bon (rekan sekantor di RCTI yang juga sesama pengarang). Ternyata Boim tau banyak tentang “FLP” dan “Annida”. Bahkan dia bercerita tentang keuletan seorang Mabruri, yang mengelola “Annida”. Saya makin tertarik.

Saya langsung berburu “Annida”. Semua cerpen-cerpennya saya lalap habis. Saya mulai tahu Mutmainah dengan serial Pingkan, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia (dengan serial “Aisyah Putri”), dan Forum Lingkar Pena. Saya juga mulai “ngeh”, bahwa ternyata Islam mulai bangkit. Ternyata ada wadah untuk menampung gagasan-gagasan yang berbau Islam dalam bentuk fiksi. Bahkan lebih dari itu. Ketidaksukaan saya pada dikotomi saastra dan non-sastra tak ada di sini. Semuanya sama. Justru fungsi sosial pengarang lebih ditonjolkan. Ada perasaan bahwa sesama pengarang adalah saudara. Subhanallah, inilah yang selama ini saya cari-cari.

Di akhir 1999 itu saya sangat bersemangat sekali. Saya bongkar-bongkar “harta karun” saya. Beberapa cerpen langsung saya re-write. Al-Quran bergeletakan di meja kerja saya. Sungguh, darah saya mulai mendidih lagi. Kelima jari saya mulai tak bisa diam. Cerita islami, cerita islami, saya datang sekarang. Kepala saya seperti hendak meledak. Penuh, penuh, penuh dengan ide-ide yang ingin segera dituangkan.

Lalu lahirlah antologi berdua (bersama HTR); Nyanyian Perjalanan. Saat launching di aula Salman ITB, saya mulai bertatap muka dengan HTR, Asma, Pingkan, dan Halfino. Dada saya bergemuruh. Ada sesuatu yang lain ketika saya duduk di depan para wanita berjilbab dan para pria yang santun dan bersahaja. Saya merasa seperti berada di suatu tempat yang damai. Saya seperti terlahir kembali…

Dan ketika saya mendapat giliran bicara, tenggorokan saya seperti tersumbat. Bibir saya kelu. Keharuan menyreuak. Dada saya sesak. Ada rasa kebahagiaan yang sulit saya lukiskan. Andai saja HTR tidak menyambar mickrofon dan mengalihkan perhatian dengan topik lain, saya pasti akan menangis.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==