Setelah peristiwa itu, saya makin mencintai FLP dengan cerita islaminya. Lahirlah “Al Bahri – Aku Datang Dari Lautan” (Asy Syaamil), yang dijadikan mini seri oleh PT. Indika dan tayang saat puasa 2001 di TV7. Kemudian novel trilogi “Pada-Mu Aku Bersimpuh” (DAR!MIZAN), yang sukses diangkat ke sinetron ramadhan oleh Indika di RCTI pada 2001. Bahkan diputar ulang di LATIVI pada puasa 2003 lalu.

Allahu Akbar! Justru setelah saya “hijrah” ke cerita-cerita Islami, rezeki saya mengalir deras. Hidup saya justru lebih barokah setelah menulis cerita-cerita Islami yang diusung FLP. Impian saya dan istri saya mendirikan sebuah tempat belajar bagi anak-anak-anak dan remaja terwujudkan. Pada akhir 2001, kami berhasil membeli sebidang tanah di belakang rumah. Lalu Maret 2002, RUMAH DUNIA berdiri kokoh. Semua berkat rezeki dari novel-novel Islami yang saya buat.

Saya tak mempedulikan ketika mendengar dan melihat, betapa baanyak pembaca karya-karya saya terdahulu yang kecewa dan menyayangkan saya masuk ke komunitas ini. Beberapa bahkan berharap saya bisa menelorkan karya sastra setelah novel serial saya; “Balada Si Roy”.

Tak apa. Bagi saya, menulis cerita Islami bukanlah hal tabu, dan menulis cerita yang dikatakan sastra bukanlah sesuatu yang mesti diagung-agungkan. Menulis bagi saya, pada akhirnya, adalah berhadapan dengan Sang Pencipta, karena kelak saya akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya…
***

*) Penulis adalah novelis dan pengelola Rumah Dunia, Ciloang-Serang. Tulisan ini disertakan dalam antoloji “Matahari Tak Pernah Sendiri” terbitan Lingkar Pena Publishing bersama dengan Helvy Tiana, Asma Nadia, Fahri Asiza, Afifah Afra, Agustrijanto, Habiburrahman El-Shirazy, Abdurahman Faiz, Galang Lufityanto, Pipiet Senja, Ali Muakhir, Boim Lebon, dan masih banyak lagi. Buku bergaya “chicken soup for the soul” ini layak untuk dikoleksi.


