Lalu saya berniat ke dapur bikin sarapan. Adik bungsu saya telepon, Aji di Cikarang, menanyakan kabar Nania (saya meanggil Nanin), keponakan kami yang sudah tiga minggu dirawat dan sempat dibiopsi. Saya ceritakan chat saya dengan kakak perempuannya.

Adik bungsu tanya, jam berapa chatnya. Saya nggak perhatikan, ternyata adik perempuan saya menulisnya di tengah malam. Lalu saya mendengar suara tangisan di latar belakang perbincangan kami. Saya mendesak: ada apa?

Lalu kabar duka itu tiba. Setengah jam sebelumnya Nania, keponakan saya yang baru berusia 11 tahun meninggalkan kami. Saya diam saja di kamar sendirian. Setengah tidak percaya. Beberapa hari kami cemas dengan kondisi kritisnya, lalu ada tanda membaik, membuat saya agak lega. Siapa tahu bisa segera pulang ke rumah dan bermain kembali dengan kakak dan adiknya.

Saya berjalan limbung menuju suami yang sedang mengetik di kamar anak lelaki kami. Saya duduk di dipan dan memberitahu suami kabar duka itu, seolah tidak yakin kebenarannya. Suami menenangkan, itu sudah ketetapan Allah.

Saat itu yang saya pikirkan adalah Ibu. Bagaimana kalau tidak kuat mendengar salah satu cucunya meninggal? Tapi ternyata Ibu lebih kuat dari saya. Saat saya menelepon dan menanyakan kondisi beliau, Ibu bilang itu yang terbaik agar Nanin tidak lagi merasakan sakit.

Saya seperti tersadar, ini nyata, kami nggak bisa ketemu Nanin lagi. Nggak akan dengar kabar ia bertanding catur lagi. Nggak akan dengar suaranya jadi backsound ramai bersama sepupu-sepupunya saat saya telepon eyangnya.

Salah satu ‘anak’ saya sudah diminta pemiliknya. Kami harus ikhlas.
Begini rasanya kehilangan…

Tias Tatanka

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==