Ada yang membela diri menjawab, “Tidak selalu harus menulis. Passionnya tidak ke sana.”
Lantas untuk apa membaca buku?

Kata Edi Wiyono, Pemimpin Redaksi Perpusnas Press, “Tanggung jawab kita sebagai pembaca buku adalah menuliskan kembali apa yang sudah kita baca.”
Pepatah China mengatakan, “Menulis adalah membaca dua kali…”

Masih banyak orang menganggap, membaca buku tidak selalu harus menulis, tapi menyuruh orang membaca dan menulis itu masih relevan.

“Sebagai Duta Baca Daerah, menulis itu tidak penting. Saya ini motivator. Jadi jika saya berhasil memengaruhi orang untuk membaca, itu sudah berhasil,” kata Duta Baca Daerah kepada saya.

Menurut saya yang benar adalah, setiap pembaca buku tidak harus jadi penulis profesional seperti saya, tapi memiliki keterampilan menulis dan menuliskan pengalamannya atau buku yang sudah dibacanya, itu sangat perlu!

Apalagi jika buku yang kita tulis itu diluncurkan dan dibedah. Saya rasa, itu tidak sekadar memotivasi tapi menjadi tauladan bagi orang lain.
Nah, bagaimana?
Gol A Gong
Duta Baca Indonesia 2021-2025




