Merekam Jejak Safari Literasi di Maluku

Usai wawancara, kami bergegas menuju Masjid Raya Al Fatah, Jl. Sultan Babullah, Kelurahan Honipopu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku untuk menunaikan ibadah salat jumat. Masjid ini merupakan masjid paling megah di Kota Ambon. Lokasi masjidnya, berada dekat dengan pelabuhan Ambon. Jadi posisi sangat strategis.

Aku memperhatikan orang-orang yang menitipkan sandal atau sepatu ke penjaga masjid. Penjaganya hanya memasukkan sandal/sepatu ke dalam sebuah kantung plastik yang telah diberi nomor. Bagi aku, ini merupakan hal baru. Biasanya di masjid-masjid yang telah aku kunjungi, penitipan sandal disimpan di sebuah rak atau kotak.

Supaya lebih sopan dalam beribadah, aku memakai kemeja lengan panjang yang telah aku beli tadi pagi bersama Bang Rudi. Aku merasa sangat nyaman beribadah di Masjid Raya Al Fatah dengan memakai kemeja khas Maluku. Alhamdulillah…

Setelah salat Jumat, Mas Gong, Bang Rudi, dan aku mencari makan siang di warung makan sekitar masjid. kami berjalan kaki mencarinya sambil menikmati atmosfer Kota Ambon. Di trotoar, aku menemukan logo “Ambon; City of Music”. Kemudian kami makan siang di salah satu warung yang kami temui.

Mas Gong memiliki jadwal pertemuan virtual dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Jadi, dia lebih dahulu kembali ke hotel setelah selesai makan siang. Sedangkan aku dan Bang Rudi berniat untuk mengeksplor Kota Ambon. Kami berdua berjalan kaki dan menemukan toko distro khas Maluku; Beta Pung yang memiliki arti dalam bahasa Indonesianya adalah punya saya. Kami berdua membeli satu kaos khas Ambon – Maluku.

Kami kembali berjalan kaki menyusuri Kota Ambon. Kami berkunjung ke salah satu tempat wisata Gong Perdamaian Dunia di Taman Pelita dengan membayar lima ribu rupiah per-orang/perkarcis. Kami bergantian berfoto dengan latar belakang gong yang menjadi salah satu ikon di sini. Di sekitar area Gong, terdapat tulisan World Peace Gong – Gong Perdamaian Dunia.

Di bawahnya, terdapat Museum Gong Perdamaian Dunia Ambon. Aku menemukan 35 negara dalam prasasti World Peace Gong. Di antaranya: China, India, Mozambique, Laos, Hungaria, Mesir, Canada, Belanda, Iran, Finlandia, Venuzuela, Maroko, Korea Utara, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Bosnia, Jepang, Suriname, Jerman, Austria, Afrika Selatan, Vietnam, Papua New Guinue, Amerika Serikat, Australia, Kuba, Singapura, Krosia, Rusia, Aljazair, Philipina, Polandia, Ukraina, dan Indonesia (Ambon/2009).

Kemudian, kami juga berkunjung ke Monumen Patung Pattimura yang berada di taman Pattimura, Uritetu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Akhirnya, aku berhasil berfoto dengan latar belakang pahlawan nasional tersebut.

Aku teringat dengan uang seribu rupiah dulu yang terdapat gambar pahlawan nasional dari Maluku, Pattimura yang memegang golok. Aku bersyukur bisa sampai sini.

Karena waku yang singkat, aku dan Bang Rudi harus menuju Swiss-Belhotel Ambon untuk melanjutkan kegiatan safari literasi besama Duta Baca Indonesia. Sesampainya kami di sana, Mas Gong masih melakukan pertemuan virtualnya bersama Perpusnas RI. Setelah beberapa menit kami merebahkan badan, pihak DPK Provinsi sudah menjemput kami dengan mobil dinasnya untuk menggelar talk show bersama Radio Republik Indonesia (RRI) Ambon.

Kemudian Mas Gong merapihkan laptopnya serta mengganti pakaiannya. Aku dan Bang Rudi juga menyiapkan beberapa buku untuk disumbangkan ke Forum Lingkar Pena (FLP) Maluku pada malam harinya. Setelah semuanya siap, kami bersama DPK Provinsi Maluku pergi ke RRI Ambon di Jl. Jend. A Yani, Kelurahan Batu Gaja, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Provinsi Maluku.

Kegiatan di sana mengangkat Duta Baca Indonesia Menyapa Anda dalam program Tamu Kita yang mengusung tema “Literasi dan Anak Masa Depan Wujudkan Maluku Maju, Indonesia Maju”. Hasil kegiatannya bisa dinikmati di Pro 1 RRI Ambon, FM 105.1 MHz atau di kanal YouTube-nya: Rriambon.

Setelah selesai, kami melanjutkan kegiatan diskusi bersama FLP Maluku di Kedai Folk, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Kami tiba di sana pukul 19.30 WIT, Mas Gong banyak berbagi tentang pengalaman hidupnya, mulai dari karier, prestasi, hingga ilmu kepenulisan. Candra Henaulu, Ketua FLP Maluku bertugas sebagai moderator. Ada 23 perserta yang merupakan partisipasi dari beberapa komunitas. Di antaranya; FLP Maluku, Wanita Penulis Indonesia (WPI) wilayah Maluku, Mafindo Maluku, Spot Bacarita, Larva Project, dan Lestari Ambon.

Mas Gong menjelaskan bahwa untuk menulis flash fiction atau fiksi mini ada syaratnya. Pertama, jumlah kata yang sedikit, disesuaikan dengan medianya seperti Twitter; 140 karakter. Jika di media Facebook, Instagram, atau Website sekitar 300 – 500 kata. Kemudian, ditulis dengan satu setting lokasi, satu waktu, dan satu cerita. Tokohnya sedikit dan akhir ceritanya harus mengejutkan pembaca atau plot twist.

Di akhir acara, Mas Gong menghibahkan buku kepada FLP Maluku dari hasil donatur berbagai penerbit. Yaitu: Gramedia, Elex Media Komputindo, Mizan, Agro Media, SIP Publishing, dan Gong Publishing. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 21.30 WIT. Kami harus segera beristirahat untuk kegitan di hari esok.

Sebelum kembali ke hotel, kami makan coto terlebih dahulu bersama Pak Ronal, perwakilan DPK Provinsi Maluku. Aku ingin tutup cerita ini dengan sebuah kutipan dari James Fenimore Cooper, penulis novel sejarah The Last of the Mohicans; history, like love, is so apt to surround her heroes with an atmosphere of imaginary brightness.

Anyar, 27 Juli 2022
Djoe Taufik

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==