Mirabad Avenue dan Bazar di Taskhent

Minggu pagi, sekitar 07:30, aku keluar dari hotel. Aku susuri jalanan kota Taskhent, Uzbekistan. Masih sepi. Tapi kendaraan lalu-lalang. Aku merasakan kenyamanan berjalan di trotoar.

Aku cermati antara jalan raya, trotoar, pedestarian, dan deretan toko. Jaraknya tidak begitu jauh. Ada semacam harmonisasi, bahwa pejalan kaki tidak merasa asing karena terkondisikan dengan toko-toko yang mulai buka. Aku jadi merasa nyaman dan aman karena sebagai orang asing seperti ada yang menemani.

Aku terus saja menyusuri Mirabad Avenue. Perut sudah keroncongan. Aku mencari sarapan. Tentu tidak mungkin mendapatkan nasi uduk, kroket, bakwan di sini. Atau kupat tahu dan lontong sayur. Apalagi nasi rawon seperti di Jawa Timur. Tapi penciumanku sebagai traveler merasa yakin, pasti ada satu titik yang jadi episentrum di Minggu pagi ini.

Aku cermati orang-orang. Aku lihat mobil-mobil. Kedua kakiku yang hanya memakai sandal gunung Eiger jadi fokus perhatian. Setiap berpapasan dengan orang-orang, mereka pasti melihat ke kakiku. Semua orang memang memakai sepatu. Suhunya bagiku seperti Bandung era 1970-an.

Tibalah aku di Mirobod Bazaar. Pasar modern. Coba bayangkan sebuah kotak bujur sangkar dikelilingi bangunan toko. Di dalamnya ada tanah kosong. Kemudian di tengah-tengah ada tiang raksasa ukuran seperti pohon yang umurnya sudah ratusan tahun; guedeeeenya minta ampun. Kemudian besi-besi panjang ditarik ke semua titik seperti jari-jari roda sepeda. Para pedagang bernaung dan berjualan di bawahnya. Parkir kendaraan di bawah tanah.

Aku keliling, memperhatikan kenapa “pasar pagi” Mirobod Taskhent ini bersih. Tidak becek. Tak ada lumpur. Bukan bermaksud membandingkan tapi iya, sih. Di kampungku, Kota Serang, ada pasar induk bernama Pasar Rawu yang jorok, preman, pungli, pencuri berkeliaran, kumuh, jeblok, bau, amburadul, tidak tertata dengan baik.

Tiba-tiba perutku keroncongan. Aku menyeberang jalan. Ada warung makan self service. Eh, aku ditraktir Abdul Somad, warga Taskhent yang sedang sarapan juga. Alhamdulillah.

8 Februari 2026
Gol A Gong
Traveler, Author
@indonesiaintashkent
@indonesiainbaku

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==