Sore itu, 20 juni 2023, pukul 16.04 Wita, saya keluar dari Larantuka menuju Tanjung Bunga, tepatnya di desa Sinar Hadi Gala. Membutuhkkan satu jam perjalanan menggunakan motor, yang jalannya tak semua mulus, ada saja jalan yang masih berlubang.

Setelah melewati SMPN 1 Tanjung Bunga, saya berusaha menghubungi Rinsi, tapi terlebih dahulu di jalan saya bertemu seorang gadis remaja yang cantik. Sepertinya mengenal saya.

“Pak Boli, mau ke Beloaja , ya? Ke tempat Ibu Rinsi? Acaranya di kantor Desa. Lurus saja,” katanya memberikan informasi.

Sampai di Kantor Desa Sinar Hadi Gala, saya disambut Rinsi.

Pementasan sederhana ini dipentaskan di depan kantor Desa Sinar Hadi Gala dengan tenda terpal seadanya. Pentas sederhana tapi tidak dengan semangatnya. Semangat anak-anak yang terlibat begitu luar biasa. Bahkan salah satu pemain, Naomi namanya, baru saja sehari sebelum pementasan, mengalami insiden tersiram air panas tapi tetap keukeuh untuk ikut pentas.

Begitu pula dengan anak laki-laki yang terlibat. Yota, 14 tahun, bisa bermain gitar dan bernyanyi, ikut dalam proses ini bukan karena paksaan tapi atas dasar keinginannya sendiri.
Acara dimulai dengan sambutan kepala desa Sinar Hadi Gala. Dalam sambutannya, Bapak Desa memborong tiket pertunjukan yang tersisa.

Pementasan dibuka oleh narasi singkat Rinsi. Sekumpulan anak-anak muncul di panggung seperti zombie. Lalu dua anak laki-laki yang terlihat kelelahan, memasuki panggung dengan melontarkan teks-teks yang kurang lebih mempertanyakan dunia pendidikan yang suram.


