Keesokan harinya, orangnya nelepon, nanya udah beres belum tulisannya. “Nggak jadi, males,” kata saya sambil tertawa.
“Liput tentang saya aja sih, jangan pekijingnya. Kita ketemuan, ngopi di rendezvous!”
“Lagi banyak kondangan euy, lewat WA aja, ya!”

“Nggak mau, ketemuan aja!”
Saya pun keukeuh nggak mau. Sorenya saya kirim point-point pertanyaan, terserah ia jawab atau nggak.

Kenapa milih jurusan pustakawan? Jurusannya apa sih lengkapnya?
Jurusannya Ilmu Perpustakaan, UIN Jakarta
Apa untungnya jadi pustakawan?
Ia jawab dengan dua poster. Pertama; agar keringat dan enegri tak menjadi percuma. Niatkan! Bahwa kita sedang melayani manusia melaksanakan ibadah ayat al-quran yang pertama (bankaip)

Kedua; Melayani umat melaksanakan ibadah ayat al-quran pertama “iqro” (Aip Rohadi)

Satu dan dua samimawon.
Tergantung mindset, sih! Beberapa mungkin tentang karier, atau memang suka dengan dunia perbukuan. Atau lainnya

Sekarang tugas di mana? PNS atau kumaha?
Iyah saya PNS, masih anggota the PNS (Panas – Red) Dalam Serang Banten. Masih bertugas sebagai pustakawan di salah satu perpuruan tinggi swasta di Serang Banten
Suka duka jadi pustakawan seperti apa?
Saya sangat berduka saat dianggap sudah tidak layak menjadi penerima, namun masih sangat ingin dan perlu angpau lebaran, juga sedih saat diwajibkan memberi ponakan angpau lebaran, tapi sayanya bokek. Semua saya lakukan saat saya mau, senang dan ceria. Sisa waktu untuk belajar agama, Dan cari nasi, agar nasionalis.
Seru saat mendapat penghargaan atau juara, sampe hari ini anak-anak di rumah masih dendam, ingin melampaui prestasi bapaknya yang gak seberapa.

Teman-teman waktu kuliah ada ga yang jadi pustakawan seperti kang Aip? Mengingat profesi orang Indonesia mah pacorok
Banyak, namun beberapa murtad, mereka alih profesi dari pustakawan menjadi lainnya, pebisnis, karyawan bank atau BUMN, pokoknya yang penghasilannya lebih besar dari pustakawan. Hehehe… Teman-teman yang masih istiqomah menjadi pustakawan tersebar koq di seluruh indonesia dan masih komunikasi, baik di grup WA alumni atau profesi. Untuk terus saling berbagi informasi update tentang dunia ilmu perpustakaaan.

Hal konkrit apa aja yang sudah dilakukan?
Anggota Dewan Perpustakaan Provinsi Banten 2017-2019, Pengurus Ikatan Pustakawan Indonesia Daerah Banten 2020-2025, Pengurus FPPTI (Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia) Wilayah Banten 2019- 2022, Juara 2 Pustakawan Berprestasi Provinsi Banten 2018, Juara 2 Menulis Esai MUI Prov Banten 2019, Peringkat 4 Nasional IALA (Indonesian Academi Librarian Award) 2019. Juga anugerah alumni UIN Jakarta Prodi Ilmu Perpustakaan Berprestasi 2020.
Gak ada yang kongkreet, semua saya lakukan suka-suka dan senang-senang, tapi banyak yang bilang kongkret, coba cek info tentang kampung Pekijing deh hehehehe, doain saya mau bikin 7 perpustakaan Masjid di Kota Serang, baru jadi dua, kurang lima lagi. Doain yaa

Selain jadi pustakawan katanya ngurusin Komunitas The Panas Dalam juga ya? Kenapa milih The Panas Dalam?
Iyah. Sebelumnya saya ketua The Panas Dalam Serang Banten. Atas perintah Presiden di Bandung, 2021 sudah bukan ketua, soalnya dikudeta Sehi (Ketua yang baru). Waktu itu penikmat karya Ayah Pidi (Buku, musik, film, puisi, ) banyak banget, lho. Dan satu waktu kita-kita berkumpul, setelahnya kita dikukuhkan Ayah Pidi di Bandung. Kini semua sedang menunggu Film Drunken Monster tayang di bioskop.

Ada nggak orang yang bersukur karena perpustakaan yang Bang Aip buat? Atau kemampuan daya hidupnya berubah sebab baca buku di perpustakaan?
Yang bersyukur pasti ada, tapi yang terlihat senang atas adanya perpustakaan di linkungannya gak langsung banyak, berangsur-angsur mereka mengerti bagaimana perpustakaan bisa mereka nikmati. Semua orang tua yang punya anak kecil pasti senang, program rutin untuk meningkatkan minat baca fokusnya ke anak-anak dan remaja soalnya. Remaja bahkan sudah mulai kasih ide-ide acara, seperti musik dan bikin film. Yes, penghasilan tambahan jadi fokus saya, beberapa mendapat penghasilan tambahan dari kerajinan kriya, masktrapp, gantungan kunci, kaos, tanaman hias, ternak lele, dan bank sampah digital, beberapa menganggap mereka dapat hasil dari membaca buku menjadi karya yang saya sebut di atas, bahasa perpustakaaannya sih inklusi sosial atau bacaan menjadi karya nyata.

Cara ukurnya gini sih, kan tiap-tiap rumah secara random diberikan rak buku, dan rak bukunya diisi per dua minggu. Begitu ada rumah yang ingin memiliki rak buku di depan rumah, artinya program diterima masyarakat, dan sekarang sebelum dua mingggu, tiap keluarga sudah memesan buku yang mereka inginkan. Buat saya, beberapa keluarga sudah meningkat minat bacanya. Bagian ini sangat seru. Awalnya kita kirim buku, ikutin profile keluarganya, misal bapak petani, ibunya ibu rumah tangga dan memiliki anak kecil, maka buku yang datang buku botani untuk bapak, tataboga untuk ibu serta bacaan anak untuk anaknya.

Orang-orang di kampung kayak di Pekijing pada baca gitu? Apa hanya memanfaatkan pengaruh ekonomi? Mereka dagang karena banyak orang berkunjung saat ada acara, selebihnya buku-buku nggak ada yang baca. Suudzhon yeuh
Karena membaca itu SMP mas anas, (Suka, Mau dan Perlu) kita harus tau betul yang mereka inginkan. Semua masyarakat harus memanfaatkan segala hal tentu dengan cara yang baik dan kreatif, maka, siap yang pro aktif pada kegiatan literasi apapun di sini, pasti mendapatkan hasil, yang bengong aja cuma akan dapat kopi dan rokok dari saya sambil saya ceramahin pentingnya membaca itu akan melahirkan pribadi yang literat dan kreatif, pribadi yang akan dimiliki kalian semua, ya jadi tergantung kamu maunya gimana. Hehehe

Di perpus tempat tugas kang Aip masih melakukan katalogisasi apa ada anak buah yang bikin?
Untuk layanan ada staff di sana, saya akan melakukan kegiatan saat ada masalah-masalah saja, juga pengembangan kemampuan staf seperti katalogisasi dan klasifikasi dll.

Selain bikin tujuh perpustakaan masjid, rencana besar kedepannya mau bikin apa?
Ada banyak tapi belum terpikirkan, masih itu aja dulu deh sampe selesai
Anakdan istri tidak komplen kalau kang Aip terlalu sibuk ngurusin acara di Pekijing dan tempat lain?
Gak. Soalnya suka saya ajak juga sih di tiap kegiatan, tapi mereka mah suka pengen ikut terus, sayanya yang repot jadi gak leluasa gitu, tuh.

Pustakawan ngaco itu julukan dari orang lain apa bikin sendiri?
Hal-hal yang formal dan serius itu menjenuhkan saya. Kan hidup itu senda gurau yaah, tapi harus mendapat manfaat atau bermanfaat, maka pustakawan ngaco itu sebenarnya menjaga kewarasan berfikir lewat kengacoan. Lagi-lagi ini cara saya agar bahagia di setiap aktivitas. Kadang seperti aneh di mata teman pustakawan lainnya, saat punya gagasan yang berbeda, karena senang saya lanjut aja dan akhirnya mereka memahami maksud saya.

Oh iya, eta masuk jurusan pustakawan dipilihin ortu apa bagaimana?
Saya pilih sendiri, tetapi saya merasa sepertinya ini takdir dan visioner banget orang tua saya kasih nama AIP ( Anak Ilmu Perpustakaan). Jurusan perpus gak banyak yang pilih, jadi saat test saya santai, soalnya pasti masuk. Hehehe. Waktu dulu lho yaa…

Usia anak dan istri udah berapa?
Kan kita harus bsrsyukur yaah, saat ulang tahun saya jarang merayakan, saya mah bersyukur aja, gak minta tambah umur-umur juga, sedikasihnya aja, jadi sejak lama gak nambah-nambah kayaknya umur saya. Begitu juga istri, cuma saya gak bersyukur punya istri satu, takut ditambah, anak 3 cukuplah yaa. Hehehehe
Pendidikan terakhir S1 doang, nggak niat ngejar mamang es doger?
Akhir-akhir ini sering berfikir lanjut sih, liat nanti aja.



Pustakawan, yang mengajarkan saya bagaimana menjadi pustakawan