Sungai Kahayan sungai terpanjang di Pulau Kalimantan. Saya pernah berperahu di sungai dengan luas mencapai 81,648 km2, panjang 600 km, lebar 500 meter dan kedalaman mencapai hingga 7 meter. Sungai yang membelah Kota Palangkaraya ini sangat indah. Biasa juga disebut sungai Biaju Besar atau sungai Dayak Besar. Tepiannya bisa buat nongkrong sambil ngopi. Sungai bisa saya jadikan setting lokasi sebuah cerita.

Begitu juga di Berau, Pangkalanbun, Sukamara, dan Bulungan. Saya sering berperahu menikmati kulinernya. Termasuk di Taman Alun-alun Kapuas. Pedesteriannya sudah dibangun lebar sehingga kita bisa menyusuri, bercengkerama dengan warga Pontianak yang menikmati sore.

Saya sungguh betah berada di tepian sungai. Kota-kota di Kalimantan rata-rata menjadikan sungai sebagai teras di depan rumahnya. Kuliner bertebaran. Di Banjarmasin ada SBJ alias soto bawah jembatan. Pasar terapung juga unik di Siring Tendean, Banjarmasin. Setiap Minggu tempat ini ramai dengan wisatawan mancanegara yang ingin sarapan.

Sedangkan di Jawa, rumah-rumahnya membelakangi sungai sehingga dijadikan kakus besar dan panjang. Jadilah sungai-sungai Jawa dangkal dan tidak bisa dijadikan sebagai alternatif tansportasi perahu.

Jka sedang nongkrong di tepian, setiap saat tongkang-tongkang hilir-mudik mengangkut batu bara. Rasanya kopi yang saya hirup semakin pahit. Tapi peristiwa itu sangat indah sekaligus menyakitkan. Negeri yang kaya raya ini terus dikeruk tapi belum sejahtera. Semoga setelah Ibu Kota Nusantara di Kalimantan terwujud, kesejahteraan mulai terasa.

Sungai-sungai di Sumatera juga oke. Sungai Siak di Riau itu asik. Saya pernah menyusuri sungai dari Kota Siak hingga Pekanbaru. Juga sungai Batanghari di Jambi, sungai Musi yang masih terasa kejayaan Sriwijayanya di Palembang.

Kalau di luar negeri saya pernah mengunjungi sungai Kucing di Serawak, Malaysia. Sungai Mekong di Laos dan Kamsboja. Sungai Dakka, Bangladesh yang padat. Dan tentu sungai Gangga di Varanasi, India yang eksotis.
Gol A Gong



