Orakadut tertawa. Dia berkacak pinggang dan menjawab , “Saya ini penakut. Bukti saya penakut, akun FB saya dilenyapkan hingga 4 kali.”
“Tapi kenapa ente masih saja melawan?”
Orakadut menjawab lagi, “Saya tidak pernah melawan, saya hanya menulis.”
Para kurcaci penguasa dzolim yang ingin eksis itu mengancam orakadut, “Kami sedang membacai status-status ente! Hati-hati, dasar koplak! Suatu hari kami jerat ente dengan undang-undang internet. Supaya ente nyungsep ke dalam penjara.”
Orakadut menjawab, “Kalian itu kelaperan. Butuh susu sama beras. Sana, pergilah ke pasar, jualan beras atau daging, itu pekerjaan mulia. Jangan ngancam-ngancam orang yang sedang memperjuangkan kebenaran.” Dia menarik tali yang mengikat leher keledai kesayangannya. Diberinya rumput. Keledai itu makan dengan rakus. “Kecuali kalian mau disamain dengan keledai, ” ledeknya tertawa.

Para kurcaci dari Kota Golokali masih tidak percaya, pasti ada yang membantu Orakadut. Bagi mereka sangat aneh, sementara semua orang di kota Golokali menghamba kepada sang Raja, tapi Si Gila Orakadut justru melawan dan sering mengingatkan, agar sang Raja tidak korupsi.
Akhirnya terpaksa Orakadut mengakui, bahwa selama ini dirinya dijaga oleh penunggu neraka. Dia semedi sebentar, memanggili mereka. Datanglah kuntilanak, genderuwo, jin kiprit, mbah jambrong, babi ngepet, tuyul, nyi blorong, bebongkong, dan prejeprettongtut.
Para kurcaci yang kelaparan itu kaget. Apalagi Ketika para penunggu neraka itu menggelitiki tubuh mereka. Mereka pun kegelian dan lari terbirit-birit, karena diberaki juga oleh para penunggu bumi. Orakadut pun berubah jadi hotel Ibis, eh, Iblis. Huahaaaahahaaaa….


