Oleh Gol A Gong

Orakadut si gila dari kota Golokali ingin marah, tapi kepada siapa? Ingin berteriak, itu bikin berisik. Biasanya jika dia merasa dadanya terhimpit batu, minum obat warungan atau bertaruh maen gaple di pos ronda bersama para pemulung dan gelandangan .

Kali ini orang-orang menjauh hanya karena istrinya mencuci uangnya yang kotor penuh lumpur di sungai. Katanya itu bisa menyebabkan sungai tercemar. Padahal sungai tercermar karena pabrik mengencinginya. Atau mereka sendiri yang membuang sampah seenaknya ke sungai.

Kata pengacaranya yang probono, “Untung istrimu nyuci uangnya di sungai. Jadi di ruang publik, itu transparan. Tapi kalau nyuci uangnya yang kotor di laundry, mampuslah kau punya istri! Apalagi istri kau bahenol nerkom!”

“Gawat! Bisa digilir nanti!”
“Jangan worry, Orakadut! Di negeri ini yang gila bukan cuma kau! Banyak! Kau pikir aku nggak gila! Ya,gilalah! Hanya gilanya beda stadium aja!”
“Kau punya solusi apa?”

“Aku akan belokkan kasus istri kau ke pencemaran nama baik sungai. Masuk akal, toh. Istri kau nyuci uang di sungai, jadi polusi di muara. Tapi, kau mesti cari uang buat para makelar tanah. Mereka pasti minta uang buat flexing.”

Orakadut menyanggupi. Demi istri. Setiap malam Orakadut melihat tongkang-tongkang melintas di depan rumahnya, mengangkuti batu bara .

“Awas, jangan protes. Itu sumber uang negara,” kata pengacara.
“Tadinya aku mau rampok seton dua tonlah!”
“Ah, kau! Makin kacau nanti punya kasus!”

Orakadut hanya mampu menjaring sampah plastik yang mengotori sungai di depan rumahnya. Dia memasang jaring dimana ujung talinya diikat dari pohon beringin di seberang sungai ke tanduk kerbau yang dia pasang di tiang utama rumahnya, sehingga sampah-sampah plastik menggunung. Dia jual ke tenggkulak dan dia tabung untuk bisa membebaskan istrnya yang belum tuntas dia gauli.

Tiba-tiba ketika Orakadut menyortir sampah gelombang kedua, ada sebuah koper merah darah. Ketika dia buka dengan menggunakan linggis, di dalamnya penuh dengan uang dollar Amerika penuh lumpur! Orakadut bingung! Kalau dicuci di sungai, pasti ketangkap basah lagi. Kalau dibawa ke laundry bisa lebih parah. Dibawa ke money changer, bahaya!

“Masuk partai saja! Setor uangnya sebagai mahar! Pasti kamu dilindungi!” bisik hatinya.
“Sumbangin aja, biar kamu masuk surga!”

“Atau serahkan ke makelar tanah, supaya bisa membebaskan istrimu!” kata hati yang lain.

Akhirnya koper warna merah sialan itu Orakadut kubur di dalam kamarnya. Lalu dia duduk di kursi sambil menyalakan TV. Dia berpikir, suatu saat, ketika sungai-sunga sudah dibersihkan oleh Dinas Lingkungan, makelar tanah sudah dibasmi, dan Raja Golokali berserta para punakawannya tidak lagi berutang dan suka nyuci uang kotornya di laundry, maka dia akan menunjukkan koper temuannya kepada publik.

Lalu perhatian Orakadut ke berita sore di TV. Penyiar mengabarkan, “Tuan Bernas Transmigraningsing, pelaku korupsi sekian puluh milyar sore tadi dibebaskan dengan sempurna. Dia bersiap akan kembali masuk ke partai untuk memenangkan satu kursi berbahaya di negeri ini…”

Orakadut tertawa. Gilanya kambuh.

“Tapi kabar mengejutkan dari lawan politik Tuan Bernas, yaitu Dendi Semutrangrang. Sore tadi rumahnya kebanjiran sehingga seluruh barang-barang di rumahnya hanyut ke sungai, termasuk koper kesayangannya yang dibeli di Paris…”

“Koper?” Orakadut melompat dan jongkok di kursinya.

“Kepada yang menemukan kopernya yang bermawarna merah darah, akan diberi imbalan satu milyar rupiah. Cuma nemuin koper, loh. Anda bisa jadi kaya mendadak. Kalau ada yang nemuin kopernya, jangan lupa komisinya buat saya, ya…”

“Satu milyar? Cukup nggak ya buat nyogok makelar tanah, supaya istriku bebas?”

*) Serang, imsak 13 April 2023

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==