Orkadut melanjutkan orasinya. “Jadi para timses itu senang melihat kita terpecah-belah!”
“Sialan!”
“Husss!”
“Anjing!”
“Ngomong yang sopan!”
“Taik kucing!”

“Mereka pragmatis, dong!”
“Apa itu pragmatis!”
“Semacam penyakit maag, mesti minum promag!”
“Hahahahaha!”
“Oportunis kalle!”
“Istilah apa lagi itu?”
“Suka nyuri opor ayam sama tumis kangkung!”
“Dasar!”
“Hahahaha!”
“Sudah, sudah dulu. Giliran saya bicara lagi, ya!” Orakadut mengangkat kedua lengannya ke udara.

Orang-orang terdiam, menunggu Orakadut bicara lagi.
“Nah, sebaiknya kita juga begitu, happy saja. Jangan terhasut. Kalau perlu, kita nggak usah datang ke lokasi kampanye. Biarkan mereka yang datang ke tempat kita, ke rumah-rumah kita!”
“Usulnya oke!”
“Iya, cuekin aja!”
“Nanti saya akan mengajukan saran kepada mereka yang jadi tim sukses, yang akan berperang, cobalah kampanye yang positif, bicara soal program dan kelebihan jagoanya dan mengatakan sejujurnya apakah jagoanya pernah korupsi atau tidak.”

“Gantung koruptor!”
“Huku mati!”
“Miskinkan!”
“Husss!”
“Diem lu!”
“Tapi, kita mesti milih jagoan yang mana?”
Orakadut menjawab dengan lantang, “Terima dulu amplop mereka, ya. Dan pilih yang serangan fajarnya dengan amplop yang cuannya lebih gede aja!”
“Hahahahaaha!”

Orakadut turun dari mimbar dan menari-nari di rumput alun-alun kota sambil tertawa-tawa. Orang-orang juga mengikuti.
Para intel kemudian bergerak dan melepaskan tembakan ke udara agar kerumunan membubarkan diri.
Orakadut lari dikejar-kejar keledainya.
*) Akhir April 2023


