Oleh: Zaeni Boli
Seperti biasa, aktivitas sore saya, jika tidak melatih anak-anak didik, adalah mengantar istri dan anak berkeliling kota Larantuka untuk suatu keperluan. Sore 24 Januari 2025, cuaca yang cerah mengiringi langkah kami menikmati suasana kota Larantuka—kota yang memang dikenal asyik karena dekat dengan pantai.
Sore itu, saat sedang berjalan-jalan, tak sengaja kami melihat sebuah keramaian di depan SMPN 1 Larantuka, tepat di samping Perpustakaan Daerah Flores Timur. Di lokasi tanah kosong tersebut, tampak ramai emak-emak yang sedang memilih barang pecah belah. Harganya cukup terjangkau, hanya 8.000 rupiah untuk satu barang.
Ya, kota ini sedang gandrung dengan barang-barang murah yang ditawarkan. Beberapa bulan sebelumnya, toko yang menjual kebutuhan sehari-hari dengan harga serba 35.000 rupiah juga diserbu warga. Bagi masyarakat dengan penghasilan pas-pasan, bisa membeli barang yang dibutuhkan adalah sebuah kemewahan sekaligus kebanggaan tersendiri.
Tak terkecuali kami. Istri saya pun akhirnya tak kuasa menahan diri untuk memilih barang-barang yang diperlukan. Menjelang magrib, ada diskon kecil-kecilan dari para penjual.
Aktivitas ini juga menjadi hiburan bagi kami, warga yang memiliki keterbatasan finansial di tengah dunia yang semakin gemerlap.



