Pegiat Literasi, Pejuang Bangsa?
Pada akhirnya, dalam isi kepalaku berkesimpulan bahwa pegiat literasi, penulis, pembaca atau aktivis yang berjibaku dengan buku atau semacam literatur lainnya adalah seorang yang berjuang mempertahankan martabat bangsa Indonesia lewat bahasa. Tidak mudah memang menjalankannya.

Contoh studi kasus, sebagai pegiat literasi, yang menyandang gelar relawan di komunitas Rumah Dunia, setiap waktu harus berjuang mengajak orang-orang untuk membaca dan menulis. Berat. Namun, setidaknya, aku berusaha untuk diriku sendiri dahulu. Banyak waktu bersama teman, saudara, bahkan asmara lebih sedikit kudapatkan ketimbang dari apa yang dijalankan teman-teman sebayaku. Menjadi pegiat literasi memang berbeda jalan dengan orang kebanyakan.

Bahkan banyak juga di kalangan mereka yang memprotesku soal pilihanku memilih jalan literasi. Namun, aku tidak pernah merasa menyesal karena itu tidak seberapa dengan perjuangan para pahlawan bangsa dan pegiat literasi lainnya. Setidaknya, ada yang kuperjuangkan untuk perbaikan pada diriku sendiri dan semoga saja itu ada manfaatnya untuk masa depanku dan buah cerita untuk generasi selanjutnya. Paling penting, aku sudah mencoba mengamalkan ayat Sang Pencipta, iqra!

Tidak bisa dimungkiri juga, perjuangan pegiat literasi lebih berat pada masa kini. Ketika para pegiat literasi hendak beranjak untuk mengetaskan indeks buta huruf, rendahnya membaca dan menulis, digitalisasi rupanya lebih cepat berlari. Literasi digital terutama bagi pegiat literasi harus bisa dikuasai, setidaknya itu mereka cerminkan ketika tidak larut dalam penggunaan gawai setiap hari, menggunakan gawai dengan tepat sasaran, jeli dalam teknologi AI, tidak mudah tersulut oleh komentar di dunia maya bahkan jangan sampai tertipu oleh berita hoaks apalagi di masa sebelum pemilu pada saat ini.

Pegiat literasi harus terus memegang teguh sumber utamanya; membaca buku, entah itu buku konvensional ataupun digital dan banyak melihat banyak tempat dan peristiwa serta juga lebih banyak mendengar sehingga jiwanya menjadi bening, menjadi penyejuk untuk sekitarnya dan tidak ‘kebarat-baratan’ meski sedianya kita juga dituntut untuk menguasai bahasa asing.(*)
*Relawan Rumah Dunia, editor buku, penulis buku dan Humas di Untirta.




