Di danau Toba, Sumatra Utara, rintik hujan membasahi pipiku. Danau yang menghampar luas dengan sempurnanya bentuk gundukan pegunungan memagari perairan itu. Kata warga, memang di tempat ini seringkali hujan turun. Di seberangnya, bangunan khas Belanda era 1820 bercokol dan berhasil membuatku tertegun kagum. Latar putih dan cat hitamnya begitu jelas dan tidak berubah seperti yang sudah kulihat di fotonya yang tersebar di internet. Sebuah bangunan tempat dimana pemilik kata-kata emas yang kupetik pada awal tulisan ini diasingkan bersama Agus Salim dan Sjahrir di tahun 1948. Ya, ia tidak lain adalah Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno.

Lewat Tulisan
Aku bersyukur bisa mengunjungi termpat bersejarah yang berdiri di atas tanah Parapat, Simalungun itu. Namun, tidak bisa dimungkiri jika aku merencanakannya secara pribadi mungkin saja akan terkendala beberapa hal seperti jadwal pekerjaan, keterbatasan biaya dan sebagainya. Lewat tulisanlah, oleh karena aku bekerja sebagai staf Humas di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, sebagai seorang juru tulis, pembuat laporan kegiatan, akhirnya aku bisa mengunjunginya. Tulisan membawaku ke mana saja, jika tidak dari membaca aku bisa menyaksikan suatu tempat dan peristiwa secara langsung. Persis seperti dikatakan Rahmat Heldy HS, penulis tenar dari Banten dan yang menyandang Duta Bahasa Banten yang mengistilahkan bahwa ia sudah diterbangkan kata-kata.

Lantas apa hubungannya Bung Karno, pemuda-pemudi, bahasa, dan tulisan dalam bahasan kali ini? Di bulan bahasa ini, Oktober, aku diingatkan jauh ke tahun 1928 ketika organisasi Budi Utomo menggelar Sumpah Pemuda, dimana dalam poin ketiga dalam sumpah itu berbunyi, ‘Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia’. Efek dari Sumpah Pemuda sungguh luar biasa dan tidak perlu diragukan lagi sehingga ini membuat Bung Karno menaruh perhatian lebih kepada para pemuda negeri ini untuk bisa berbahasa. Hal itu bisa dilihat dari kesungguhannya dalam mengajarkan anak-anak di masanya melaui huruf vokal AIUEO kepada para buta huruf waktu itu. Ia adalah seorang pegiat literasi yang gigih.

Pada buku otobiografi yang dirapikan oleh wartawan asing Cindy Adams, Bung Karno menunjukkan kegigihannya dalam memperjuangkan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ia berkata, ‘hendaknya rakyat Marhaen dan orang bangsawan berbicara dalam bahasa yang sama. Hendaknya seseorang dari satu pulau dapat berhubungan dengan saudara-saudaranya di pulau lain dalam bahasa yang sama. Kalau kita, yang beranak-pinak seperti kelinci, akan menjadi satu masyarakat, satu bangsa, kita harus mempunyai satu bahasa persatuan. Bahasa dari Indonesia Baru.” (CV HAJI MASAGUNG, 1988:101).

Kemudian jauh sebelum masa kemerdekaan dan sesudahnya angkatan Pujangga Lama menyertai perjuangan bahasa Indonesia, Angkata Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka (1920–1932) Angkatan Pujangga Baru (1933–1942) Angkatan 1945 (1942–1949) Angkatan 1950–1960-an, Angkatan 1966 (1966–1970-an), Angkatan 1980–1990-an, Angkatan 2000 dan seterusnya.



