Peristiwanya di pulau Adonara, Flores Timur. Tahun 2022. Saya memberi pelatihan kepada pelajar SMP. Sebelum saya memberi pelatihan, saya membaca beberapa karya mereka:

IBU
Ibu….
Kau wanita perkasa
Merawatku ketika sakit
Ibu….
Kau istri ayahku
Kini kau telau pergi
Menuju surge abadi

Lalu saya menyarankan kepada para siswa, agar menulis ulang puisinya. Kata saya, “Bisa nggak ibu atau ayahmu disimbolkan jadi benda, bunga, atau binatang?”
Tidak lama, si anak yang menulis puisi “Ibu” tadi berlari ke meja saya. Dia memberikan selembar kertas dengan judul baru:

PAYUNG
Setiap hujan aku memakai payung
tadinya payungku ada dua
kini setiap Minggu aku pergi ke taman
menabur bunga
payungku kini tinggal satu

Sunguh, saya bergetar membacanya. Saya bertanya, “Coba jelaskan maksud dari baris ‘Setiap hujan aku memakai payung’ ini?”
Si anak menjawab malu-malu, “Maksud ‘hujan’ itu ‘kesulitan, suka-duka’, Pak. Arti ‘payung’ itu ‘ibu’, Pak.”
Saya mengusap-usap kepala anak itu.


