Aku yang baru datang bersama kawanku setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat jam Serang-Binuangeun naik motor melintasi jalanan rusak parah yang tak pernah rampung dibenahi pemerintah masih merasakan kelelahan luar biasa. Dengan suasana seperti itu istirahatku agak sedikit terganggu.

Orangtuaku pun hampir begadang setiap malam, mereka baru bisa tertidur lelap setelah shalat subuh. Aku merasa iba kepada kedua orangtuaku, pamanku yang mencalonkan diri jadi lurah, namun kedua orangtuaku yang dibuat sibuk terkuras waktu dan tenaga setiap malam.

Dini hari, setelah para tamu satu persatu beranjak pulang ke rumahnya masing-masing, sekitar pukul setengah dua dini hari. Ibuku memperlihatkan catatan pengeluaran uang beberapa hari terakhir, sudah mencapai kurang lebih tiga puluh juta. Mendengarnya, tenggorokanku terasa tercekat,

Aku hanya bisa diam tercengang sambil menelan ludah. Tak mengira ibu telah mengeluarkan uang sebanyak itu demi memperturutkan napsu adiknya yang tak bisa dilarang – keukeuh ingin mencalonkan diri sebagai kepala desa.
“Capek Ema mah, padahal tikamari geh Mamang dia geus dicarek, tapi maksa bae. Eta geh nu sapuluh juta mah meunang nginjem titatangga.” Ibuku menghembuskan napas panjang lalu menguap didera kantuk keyika menceritakan, bahwa sepuluh juta rupiah meminjam ke tetangga.

“Laju eta itunganna hutang Emak, atawa hutang Mamang?” tanyaku penasaran, sambil membaca ulang tulisan tangan yang dicatat oleh ibuku dibuku catatan yang nampak lusuh. Aku kuatir nanti semua hutangnya oleh mamang ditimpakan ke emak.
“Nya hutang mamanglah,” ibuku terlihat jengkel. “Eta geh mun manehna nu nginjeum mah umum teuing rek aya nu nginjeman.”
Aku mengangguk-angguk.
“Nya enggeus nyah, Emak rek sare heula lieur carapek hulu rieut,” ibuku berlalu berjalan gontai menuju kamar tidurnya.

Aku masih duduk termenung di ruang tamu. Sebelumnya aku tak pernah mengira jika pemilihan kepada desa serumit ini, budaya money politik menjadi sesuatu yang berurat akar tak terelakan. Apalagi pemilihan camat, bupati, gubernur hingga presiden, berapa nominal uang yang mesti dikeluarkan.
Aku pun beringsut menuju kamar; terlihat kawanku sudah terlelap dalam mimpinya. Aku berbaring di sampingnya berusaha memejamkan mata yang tak hendak tidur. Terbayang di pelupuk mataku suasana di rumah pamanku pasti masih ramai pengunjung.

- Hari pemilihan kepala desa pun tiba, rumahku dipadati puluhan orang, di pojok depan rumah disediakan bungkusan nasi dalam karung, disampingnya nampak beberapa dus air mineral tersusun rapi. Satu persatu orang-orang mengambil dan memakannya, sebagian ada yang ngopi dan minum teh manis sambil ngobrol ngalor-ngidul.
- Mobil truk dengan bendera coklat sudah nangkring di depan rumah, siap mengantar para pemilih ke tempat pemungutan suara,. Tidak lama berselang pamanku bersama istrinya lewat diiringi oleh ibu dan saudara-saudaraku, di arak dan dipayungi seperti pengantin hendak seserahan dan melakukan resepsi akad nikah. Air muka pamanku nampak beku dan tegang.

Setelah menyiapkan aneka keperluan untuk orang-orang yang ada di rumah, aku bersama temanku berjalan ke lapangan tempat pemunggutan suara. Konon, menurut mitos yang beredar di masyarakat di kampungku, agar menang pihak keluarga mesti pagi-pagi nyoblos sebelum didahului keluarga calon lain.
Sesampainya di lapangan suasana terlihat penuh sesak, lapangan bola yang biasanya sepi dihari-hari biasa disulap menjadi pasar dadakan, kiri-kanan dipenuhi aneka dagangan dan makanan dari mulai lotek (pecel), pindang, serabi hingga mie ayam, ribuan orang tumpah ruah ke lapangan bermandikan hangatnya matahari pagi hari.

Tanpa berlama-lama menunggu, aku langsung menyerahkan kertas hak pilih ke petugas dan duduk di tempat tunggu yang telah disediakan panitia. di tengah lapangan terlihat dua pasangan calon tengah mengibar-ngibarkan bendera masing-masing, sementara satu pasangan calon lagi belum terlihat batang hidungnya.
Para pemilih semakin penuh sesak dan tak sabar ingin cepat selesai menyoblos, terdengar teriakan-teriakan agar proses pemungutan suara segera dimulai. “Nu koneng mah teu jadi meureun ngundurkeun diri!” terdengar teriakan orang-orang yang tak sabar karena matahari semakin panas menggigit kulit.

Sekitar sepuluh menit pasangan calon dengan bendera kuning tiba memasuki lapangan, tanpa berlama-lama acara pun segera dimulai. Setelah KPU membacakan tata tertib pemilu dan mengambil sumpah dari masing-masing calon, proses pemungutan suara pun dilangsungkan, aku dipanggil setelah didahului oleh sekitar lima orang, setelah nyoblos dan keluar tenda aku tidak langsung pulang ke rumah, aku membidikan kamera digitalku terlebih dahulu kepada ketiga pasangan calon. Mengabadikan momen-momen penting yang baru kali ini kusaksikan langsung.

Bakda ashar proses pencoblosan baru selesai, tiba-tiba awan yang cerah diusir oleh kawanan awan hitam berarak, hujan pun turun sangat deras, para penonton dan pedagang yang berkerumun menanti proses penghitungan terdengar riuh kocar-kacir mencari tempat berteduh, panitia terlihat sibuk mengamankan dua kotak suara. Kondisi hujan lebat tidak memungkinkan untuk melakukan proses penghitungan di tenda yang dirembesi air, dua kotak suara itu pun dipindahkan ke ruang sekolah yang tak jauh dari lapangan.

Menjelang maghrib, hujan belum juga reda, sekitar pukul enam tiga puluh, baru dilakukan proses penghitungan suara, para penonton sekaligus pendukung masing-masing pasangan calon berkerumun terpisah-pisah sambil mencatat hasil perhitungan.
“Coklaaat, hijauu. Coklaat, hijau ” dua warna pasangan calon kejar mengejar saling salip, hanya sesekali terdengar suara “Kuning”. Aku yang ikut mencatat kian berdebar-debar suara hijau mulai menjauhi jumlah cokelat hingga terpaut 20 point, namun aku terus berbesar hati—tepatnya membesar-besarkan hati, karena masih ada kotak selanjutnya yang belum dihitung.

Selesai penghitungan kotak surat suara yang pertama listrik mendadak mati, para penonton bersorak serempak, “huuuuuh”. Karena tak mungkin menunggu listrik nyala sementara malam terus merangkak terpaksa panitia sibuk mengunakan diesel untuk penerangan, kami yang ikut mencatat proses perhitungan suara terpaksa mencatat dengan dibantu penerangan sorot layar handphone, lantaran diesel hanya menerangi ruangan pemungutan suara. Hanya satu dua orang yang membawa senter.

Aku yang duduk mencatat sambil jongkok sekitar satu setengah jam dikerumuni orang merasa kesemutan dan keram luarbiasa, suara pendukung hijau terdengar histeris—terutama perempuan-perempuannya yang centil—setiap kali warna hijau diteriakan melalui corong speaker, aku semakin gelisah suara coklat belum juga mampu mengejar ketertinggalan yang semakin jauh.
Aku pun memilih pulang. Sepanjang perjalanan, hatiku terus berdoa agar apapun yang akan terjadi, keluargaku mampu menyikapinya dengan bijak jangan sampai kalah jadi abu menang jadi arang. Sesampainya di rumah, ibuku langsung menanyaiku mengenai perkembangan penghitungan suara, kujawab jujur untuk sementara hijau unggul dan coklat berada di posisi kedua.

Orang-orang yang ada di rumah masih terlihat optimis dan yakin akan menang walaupun tak bisa disembunyikan ada raut muka kecemasan dan kekhawatiran berpendar memenuhi ruangan, aku hanya diam mendengarkan obrolan tanpa banyak komentar.
Ibuku menceritakan ketika pamanku berjalan melewati rumah salahsatu pasangan calon yang menjadi lawan pamanku tiba-tiba terhenti dan merapalkan doa-doa kemudian menjejakkan kaki tiga kali sebelum meloncat dan melanjutkan perjalanan. Konon pamanku tahu bahwa ada ranjau garam yang sengaja ditabur agar siapapun yang melewatinya menjadi sial.
Banyak pula hal-hal tak masuk akal yang diceritakan oleh ibu dan orang-orang yang ada di rumah sambil menunggu ayahku pulang melaporkan hasil perhitungan.

Hingga larut malam perhitungan belum juga selesai, sekitar pukul satu dini hari, ayahku yang bertugas sebagai saksi dari pihak pamanku yang berbendera coklat pulang, “ Assalamualaikum… Masya Allah bae, eleh” ia mengulum senyum getir, kemudian tertawa kecut berusaha menyelimuti kekecewaannya, “ Geus kieu mah, urang tinggal pasrah narima nasib,” Ayahku kembali berkata lirih kepada orang-orang yang hadir di rumahku.
Semua hanya bisa terdiam. suasana kekecewaan begitu terasa memenuhi seisi ruangan, aku hanya bisa diam terpaku tak bersuara. Kemudian tersentak kaget mendengar jerit histeris ibu-ibu yang mendapati Ibuku pingsan tak sadarkan diri.
Serang, 07 Juli 2010



Ilustrasinya keren keren