Mengangkat judul “Merdeka Tapi Bingung”, BSM coba memotret kondisi masyarakat ditengah eforia masyarakat menyambut perayaan HUT ke-78 RI, bahwa masih banyak orang susah di negeri ini yang luput dari perhatian. Apalagi jika pejabat publik tak peduli terhadap kondisi tersebut.

Sikap melawan dengan cara santun adalah ciri dari kesenian yang elegan. Malam itu 17 Agustus di Panggung Taman Kota Larantuka, anak anak BSM tak sekedar tampil menghibur namun hadir memberitahukan, bahwa keadilan di negeri ini belum merata.
Seorang sekuriti gila naik ke atas podium membacakan Teks Pancasila. Pada sila ke 5, ia menangis tersedu-sedu.

Lalu masuk sekumpulan orang gila yang tadi ia usir, mencoba menghibur dengan nyanyian “balonku ada lima” sebagai simbol beragam partai politik yang ada di Indonesia, yang hanya pandai mengarang lagu tapi hatinya tertutup bagi penderitaan rakyat.

Pertunjukan ditutup dengan seorang perempuan gila yang menari diantar para pejabat yang hadir. Pertunjukan ini adalah satire bagi kehidupan kita hari ini, di negeri ini.

Selain dipentaskan di Taman Kota Larantuka, pementasan malam itu juga disiarkan langsung dan diikutsertakan dalam perayaan 17-an bersama Seniman Se Nusantara yang tergabung dalam Meditasi Corona Virus. (*)


