Saya kaget. Ingin saya marah. Tapi ingat pesan Bapak dan Emak. “Terima kasih. saya setuju dengan Anda. Novel saya ini tidak sebanding dengan Al Qur’an. Saya juga akan melakukan hal sama. Semoga di novel berikutnya, saya bisa menulis novel lebih baik lagi.”

Pernah di kota besar, “Novel Anda sampah.”
Pernah lagi di kota provinsi, “Novel Anda itu semua sampah.”
Di sebuah kota provinsi yang lain, “Novel Anda tidak pantas dibedah di sini. Kota Anda itu tidak tertulis di peta sastra negeri ini.”

Di kota yang lain, “Lucu. Kota yang memproduksi kekerasan dan tukang korupsi, tiba-tiba berbicara tentang tradisi baca-tulis di kota yang peradabannya sudah maju.”
Di kota yang lain lagi, “Siapa Gol A Gong? Kenapa harus dia yang bicara? Di kota ini gudangnya penulis!”

Jika saya ceritakan cacian dan makian para pembaca atau dari siapa pun, saya yakin bulu kuduk Anda merinding. Tapi yang paling membahagiakan, mereka tidak rasis dan diskriminatif terhadap saya. Mereka berbicara soal karya saya saja. Lebih membahagiakan lagi, setelah selesai acara mereka mengajak lagi berdikusi dan membeli buku saya, meminta tanda tangan saya. Tradisi membaca orang-orang yang mencaci-maki karya saya sangat tinggi.

Di rumah, saya ceritakan peristiwa ini kepada Bapak dan Emak. Kata Bapak, “Kesalahan pertama itu ada pada dirimu.”
Saya bingung, “Kenapa bisa begitu?”
“Yang pertama kali punya keinginan menulis novel itu siapa?”
“Ya, saya.”
“Nah, bukan mereka.Tapi kamu.”
Saya tertegun.



Saya keseringan ke sekolah binaan membimbing guru. Tapi, ada yang merasa tak enak kehadiran saya di sekolah itu. Ketidakenaan dipostingnya di FB, tersinggungkah ? Pingin sih begitu, tak mampu, akhirnya abaikan saja. Ternyata rasa syiriknya saja, pengawas sekolahnya tidak se kreatif saya.Ha…ha.
Setiap orang yang kreatif lawannya pasti orang pemalas yang syirik. Terus saja berkreativitas.