“Jadi kalau kamu dikritik terus marah, mereka akan bertanya lagi, ‘Lho, yang nulis novel kan kamu!’ Jadi, kamu harus siap menerima resikonya.”
Saya mengangguk.

Saya mendapatkan pencerahan dari Bapak dan Emak yang pensiunan Kepala Sekolah. Ternyata menulis itu ibarat membukakan pintu bagi para pembaca. Keputusan berikutnya ada pada diri pembaca, apakah mau membuka pintu lebih lebar lagi dan menjelajah isi ruangannya atau tidak. Saya sebagai penulis tidak perlu memaksa-maksa agar mereka masuk.

Kadang saya temukan di antara sesama penulis pemula, ketika dikritik malah balas mengkritik. Paling celaka lagi sampai ke urusan pribadi dan memutus pertemanan. Kita sebagai penulis tidak bisa meminta lebih kepada para pembaca agar memuji buku kita.

Saya rasa yang lebih penting bagi penulis, terus menulis. Novel terbaru saya sekarang berjudul “Lelaki di Tanah Perawan.” dan dimuat bersambung di platform digital.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada para pengkritik saya. Tanpa kritikan itu semua, saya yakin: saya tidak akan produktif menulis. Terima kasih, kawan.
Tetap semangat membaca dan menulis, kawan!
Gol A Gong


Saya keseringan ke sekolah binaan membimbing guru. Tapi, ada yang merasa tak enak kehadiran saya di sekolah itu. Ketidakenaan dipostingnya di FB, tersinggungkah ? Pingin sih begitu, tak mampu, akhirnya abaikan saja. Ternyata rasa syiriknya saja, pengawas sekolahnya tidak se kreatif saya.Ha…ha.
Setiap orang yang kreatif lawannya pasti orang pemalas yang syirik. Terus saja berkreativitas.