Penulis Harus Memiliki Sikap Jujur dan Terbuka Dikritik Pembaca

Kalau menulis fiksi, juga harus jujur? Iya! Misalnya, saat saya menulis novel “Balada Si Roy” dengan setting utama kota Serang dan cerita pada era 1980-an,. maka saya harus jujur denga perilaku masyarakanya pada masa itu. Secara antropolog, sosio-kulturalnya.

Saya tidak jadi etnografer, tetapi setidaknya saya mencatat (secara detail) kehidupan remaja Banten pada erra itu. Saya menggunakan artikulator seorang remaja petualang bernama “Roy” (Bandung) yang memiliki cara berpikir modern ketimbang tokoh “Dullah” (Banten) yang masih primordial. Sikap jujur ini terbentuk dari hasil riset.

Kedua, sikap terbuka dikritik. Ini yang harus dimiliki oleh para penulis pemula (ada juga yang berumur tua dan baru menulis) atau penulis yang memang berusia muda. Ketika buku dituliskan, kemudian dijual ke publik, maka urusan si penulis dengan buku itu tidak bisa lagi sendiri, tapi sudah harus siap head to head dengan publik. Jika dipuji, jadikan cermin. Jika dicaci, untuk instropeksi menulis lebih baik lagi. Kadang kita lupa, bahwa para pembaca itu ternyata lebih pintar dari si penulisnya.

Nah, terima kasih sudah membaca tulisan saya ini. Jika menggeluti dunia kepenulisan, ingatlah hal paling utama: riset! Baik itu riset pustaka atau riset lapangan. Jika itu kalian lewati, maka ketika menulis, kalian hanya melamun. Saat melamun, biasaya ada roh jahat lewat, kesurupan, deh! Jadi “menulis itu bukan pekerjaan melamun tetapi melakukan kerja-kerja intelektual”.Masih belum jelas? Gabung saja ke “Kelas Menulis Gol A Gong”. Daftar segera ke Tias Tatanka di 081906311007.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==