Di antara banyak kelompok yang sudah melakukan survei dan observasi ke tiap daerah masing-masing. Hanya ada satu kelompok yang mendapatkan tempat istimewa, atau lebih mudah untuk mengajak musyawarah, perkenalan, dan pengenalan program kepada warga sekitar.
Awalnya, hal itu terjadi ketika kelompok KKN 55 Cirompang melakukan survei lapangan, untuk melihat situasi masyarakat dan mendapatkan penginapan. Pihak kelurahan memberikan ide agar mereka menghuni dua rumah milik warga, namun saat melihat kondisi bangunan, kamar mandinya tidak berfungsi dengan baik.

Pencarian tempat tinggal, berlanjut ke balai desa setempat. Bang Jaro sebagai penjaga balai, memberikan kesempatan agar kelompok KKN 55 Cirompang tinggal di situ. Namun, mendengar penuturan dari beberapa remaja, bahwa balai tersebut, setiap malam sering dijadikan tempat kumpul/nongkrong, akhirnya para mahasiswa mengurungkan niat untuk menetap di sana.
Mereka kemudian diarahkan ke tokoh masyarakat atau sesepuh kampung, dengan alasan mungkin bisa membantu dan menawarkan diri. Olot Amir, begitu orang-orang sekitar memanggil beliau. Saat para mahasiswa datang ke rumah Olot Amir, beliau mempersilahkan rumahnya agar menjadi penginapan mahasiswa. “Memang biasanya rumah saya ini, menjadi hunian mahasiswa yang sedang KKN,” ungkapnya.



