Nah, kadang kita selalu terpaku kepada tokoh yang baik atau protagonis. Padahal tokoh jahat atau antagonis bisa juga jadi penyampai pesan baik kita. Tokoh “Joker” adalah karakter antagonis yang kemudian – anehnya – kita jatuh cinta kepadanya dan merasakan kepedihannya.

Di film “Philadelphia” yang dirilis tahun 1993. Saya menonton film itu di Bandung dan menimbulkan polemik. Mengutip Wikipedia, Philadelphia film Hollywood pertama yang mengakui HIV/AIDS, homoseksualitas, dan homofobia. Film ini ditulis oleh Ron Nyswaner, disutradarai oleh Jonathan Demme dan dibintangi oleh Tom Hanks dan Denzel Washington.

Hanks memenangkan penghargaan Aktor Terbaik Academy Award untuk perannya sebagai Andrew Beckett dalam film ini, sementara lagu “Streets of Philadelphia” oleh Bruce Springsteen memenangkan Lagu Orisinal Terbaik Academy Award. Nyswaner juga dinominasikan untuk Skenario Asli Terbaik Academy Award, tetapi kalah dari Jane Campion untuk film The Piano.

Setelah bubar nonton, opini terbelah. Ada yang merasa iba kepada tokoh yang diperankan oleh Tom Hanks, ada yang merasa itu hukuman setimpal akibat ulahnya yang free sex dan hidup sembarangan.
Di novel Papilon karya Henri Charriere juga begiu. tokoh antagonis Papilon – yang sebetulnya difitnah, berkali-kali melakukan percobaan kabur dari penjara Guyana yang mengerikan, tapi gagal lagi noba lagi, gagal lagi, tapi kemudian berhasil.

Monte Cristo karya Alexandre Dumas juga begitu. Kita seolah ikut membenarkan pembalasa dendam yang dilakuan oleh Count Monte Cristo.

Jadi, penghakiman terhadap tokoh antagonis yang selalu buruk, mulai sekarang harus dipertimbangkan. Beberapa cerpen saya juga sudah mulai mengenalkan tokoh antagonis sebagai penyampai pesan baiknya.
Menurut kamu, bagaimana?
Gol A Gong



