Potret Kerusakan Alam dalam Puisi Roga Saghara Bhumi

Oleh Kurnia Hidayati

Manusia dan alam, hidup berdampingan. Alam memberikan segalanya untuk manusia. Tempat tinggal dan sumber kehidupan. Sayangnya, manusia dengan keserakahannya suka merusak alam tanpa memikirkan apa dampaknya. Bukannya tidak paham, sebab hampir bisa dipastikan semuanya sudah mendapatkan materi pelajaran semenjak belia perihal menjaga alam dan lingkungannya.

Rasanya sedih melihat bencana yang sering terjadi di negeri tercinta kita ini. Tidak usah berdalih takdir apabila bencana datang karena ulah manusia sendiri. Sedih, kecewa, marah, dan putus asa berkelindan menjadi satu saat menyaksikan kabar dari layar tentang saudara kita yang tertimpa bencana. Mereka kehilangan rumah, harta benda, keluarga, bahkan nyawa. Ingin kami suarakan, namun suara kami telah tertahan.

Gol A Gong, dalam kumpulan puisi terbarunya yang berjudul Roga Sagara Bhumi serupa sebuah suara yang mewakili isi hati. Gol A Gong yang sudah menyinggahi banyak tempat amat piawai memotret berbagai peristiwa melalui kata-kata. Judul Roga Sanghara Bhumi berarti kurang lebih “penyakit/ bencana penghancur bumi”.

Berisi delapan tema yang sebagian besar membahas tentang alam serta lingkungan yang mulai rusak sehingga bencana tiba akibat ulang tangan manusia. Gol A Gong tidak meromantisasi perjalanannya dengan larik-larik yang mendayu-dayu. Namun, ia menulis kegetiran yang apa adanya.

Salah satunya adalah tentang ingatan masa kecil. Bagi sesorang yang cukup matang melewati berbagai laju kehidupan. Masa kecil adalah salah satu fragmen hidup yang indah dikenang, Di masa kecil, kita mungkin telah menikmati dan bermain dengan keindahan alam.

Alam tak hanya mencukupi kebutuhan fisik namun juga kebutuhan hati dan rasa bahahagia tak ternilai. Semuanya terpatri dalam ingatan. Tentunya, penulis berharap masa kecilnya yang indah tak hanya akan berakhir menjadi cerita. Namun sekarang,

Rumah-rumah masa kecil berganti mesin bermerk,/ menawarkan kehampaan//

Mereka pergi ke pedalaman,/ membangun kenangan baru yang palsu …. “ halaman 18.

Pada puisi ini, penulis menyindir kebahagiaan palsu yang tercipta di media sosial. Tambak ikan, rumah masa kecil, laut, dan kekayaan alam sudah menjadi komoditi yang diperjual belikan. Yang menikmati hanyalah segelintir orang.

Begitu pula dengan puisi berjudul “Pantai yang Hilang” penulis menggambarkan betapa kapitalisme telah menghalalkan segala cara merampas kelestarian alam. Menabrak segala batas agar dapat ditukar dengan berlembar mata uang.

“Rumah-rumah dihantam besi,/ air mata kering// buldozer datang tanpa ragu,/ jadi santapan kamera // pohon kelapa penawar dahaga, / tumbang tak bersisa/ orang berpesta di internet,/ menghitung dolar Amerika ….” Halaman 19.

Pantai yang hilang kesederhanaannya ketika anak-anak tak lagi bebas bermain bola di sana. Sayangnya kini, pantai itu tak bisa dimiliki semua orang. Pantai telah memiliki “pagarnya” yang memisahkan kesederhanaan dan kemewahan.

Puisi-puisi yang dihadirkan Gol A Gong di buku ini secara gamblang menuliskan apa yang benar-benar terjadi. Dengan piawai, penulis meracik diksi sehingga terasa menyentuh dan membawa pembaca pada perenungan yang panjang.

“Pohon-pohon tak lagi berakar bumi leluhur/ hanya menyisakan nisan-nisan kayu di tanah merah/ hutan menjadi kuburan tanpa dosa khusuk berserah/ ditutup tirai kebohongan para penguasa tanpa rasa syukur.” Halaman 28.

Kita menyaksikan kedzaliman ini, tapi apa daya. Rakyat biasa hanya bisa meratapi tanpa bisa berbuat banyak. Sebagaimana bait terakhir dari puisi berjudul “Pohon di Hutan” ini,

“Pohonku pergi tanpa pamit/ hutanku menangis sendirian.// Aku hanya bisa menulis puisi untuk merayakan kepergiannya.//

Puisi yang apik dengan akhir bait yang menyakitkan. Tatkala kepergian pohon tak bisa dirayakan. Dengan mudahnya, tangan-tangan tak bertanggung jawab merenggutnya tanpa sisa. Sebatang pohon bermakna amat luas tak sekadar angka-angka di lembaran mata uang.

Buku yang berisi 60 puisi ini serupa kabar berita yang terputar di layar kita tentang peristiwa kerusakan yang ditelaah melalui kata. Di antaranya judul-judulnya adalah Tanah yang Tersisa, Pantai yang Hilang, Pohon di Hutan, Bencana di Hutan, Abrasi, dan puisi lainnya.

Buku puisi ini tak hanya menjadi hiburan, atau selingan ketika bersantai sebab puisi-puisi di dalamnya membutuhkan perenungan yang dalam. Besar harapan pembaca agar buku ini dibaca oleh lebih banyak orang sebagai sebuah peringatan yang menyentuh hati untuk menjaga alam agar tetap lestari.

Batang, Desember 2025

Identitas Buku:

Judul Buku : Roga Saghara Bhumi

Penulis : Gol A Gong

Penerbit:  Gong Publishing

Tebal :  75 halaman

Tahun Terbit: 2025

Tentang Penulis:

Kurnia Hidayati lahir di Batang, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya tersiar di berbagai media massa seluruh Indonesia. Saat ini tengah membangun akun literasi di media sosial instagram dan tiktok @katakurnia.

RAK BUKU  adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==