Program Kampus Merdeka ini memang dirancang untuk melatih mahasiswa untuk bisa belajar di mana pun. Tidak terbatas pada ruang kelas di gedung kampus, tapi juga di dunia industri bahkan di desa tempat pengabdian.

Saat ini, kemendikbudristek menjalankan 6 program flagship terkait dengan kampus Merdeka yang bisa diikuti oleh mahasiswa. Diantaranya, Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM), Indonesian International Student Mobility Award (IISMA), Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), Kampus Mengajar, Wirausaha Merdeka, dan Praktisi Mengajar.

Setiap mahasiswa, berkesempatan untuk ikut 2 kali program kampus merdeka selama masa perkuliahan. Setiap program kampus merdeka dilaksanakan di luar kampus selama 1 semester. Artinya mahasiswa diperkenankan untuk belajar di luar kampus selama 1 tahun, baik itu secara berturut-turut atau tidak.

Saya mengibatkan program Kampus Merdeka ini adalah kue besar, dan mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih bagian kue mana yang diinginkan dan sesuai dengan selera.
Menurut saya, program Kampus Merdeka yang diinisiasi oleh Kemendikbudristek dibawah pimpinan Pak Nadiem Makarim cukup bagus dan manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh mahasiswa.

Termasuk saya yang 4 bulan kemarin mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka batch 3 di Universitas Gorontalo, Agustus hingga Desember 2023. Banyak sekali pelajaran berharga yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika tidak ikut PMM.

Misalnya, soal pemahaman kebhinekaan dan belajar bareng dan hidup berdampingan dengan teman-teman dari seluruh daerah di Indonesia. Saya menjadi lebih terbuka terhadap perspektif yang beragam, cara pikir teman-teman yang berbeda daerah dan saling menghargai satu sama lain.
Pemahaman seperti itu sangat penting dimiliki oleh setiap orang, terutama anak muda. Mengingat Indonesia adalah negara yang multietnis dan multikultural. Dan keragaman itu penting untuk terus dirawat dan dijaga untuk kemajuan republik ini.


