Puisi esai ini berpijak pada kabar pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Beleka Lebe Sane di lahan SMP Negeri 5 Praya Timur, Lombok Tengah. Sejumlah pemberitaan menyoroti kontras antara gerai koperasi yang berdiri megah di depan sekolah dan kondisi bangunan SMP yang memprihatinkan. Lahan yang digunakan untuk pembangunan koperasi juga disebut sebelumnya merupakan ruang kelas dan laboratorium IPA.
Lewat narasi kontras antara kilau cat gedung transaksi dan rapuhnya atap ruang kelas, karya ini menyampaikan kritik sosial atas pola kebijakan publik yang kerap mendahulukan simbol-simbol perputaran ekonomi instan ketimbang jaminan pemenuhan hak pendidikan anak-anak bangsa. Dari peristiwa itu muncul pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa bangunan ekonomi bisa cepat benderang, sementara ruang belajar anak-anak masih temaram?


I. Ketika Bangunan Ekonomi Lebih Cepat Berdiri
Di desa itu, waktu seperti diajak berlari,
sebuah gerai Koperasi Desa Merah Putih berdiri
dalam hari-hari yang terasa tergesa.
Cat temboknya menyilaukan mata:
merah dan putih yang begitu presisi,
atap baja ringannya kokoh
menantang angin sore yang memburu.
Fondasi dibangun tanpa henti,
dari fajar hingga malam berganti,
seolah ada desakan tak terlihat
yang menuntut semua cepat selesai.
Papan nama dipasang,
bangunan baru tampak gagah
di hadapan mata yang lewat.
Di sana, kemajuan seolah mudah dikenali:
dinding yang rapi,
warna yang menyala,
dan bangunan yang siap difoto
sebagai tanda desa sedang bergerak.
II. Generasi Emas di Kelas yang Retak
Namun, tak jauh dari kilau bangunan baru itu,
sebuah SMP negeri berdiri
dengan napas yang makin tersengal.
Dindingnya retak
membentuk garis-garis patah hati
yang tak pernah disembuhkan.
Atap dan plafonnya berlubang,
pintu dan jendela kehilangan utuhnya,
sementara perpustakaan
menyisakan cerita tentang puing, kayu, dan genteng
yang tak lagi sanggup menaungi buku.
Di dalam kelas,
anak-anak tetap datang dan belajar,
menulis di atas meja yang lelah,
mendengar suara guru
di antara ruang yang lama menunggu diselamatkan.
Bila hujan turun,
buku-buku pelajaran dipeluk erat di dada,
menghindari tetesan air
yang jatuh dari atap yang lama terluka.
III. Rintihan Suara yang Terlalu Lama Menunggu

Sudah lama
usulan perbaikan sekolah itu
mengendap di meja birokrasi,
terselip di antara tumpukan berkas
yang selalu menunggu giliran.
Jawaban datang pelan,
berputar dari satu meja ke meja lain:
akan diupayakan,
akan dihitung,
akan direncanakan,
akan diperbaiki bertahap.
Sementara itu,
di dekat sekolah yang sama,
bangunan koperasi berdiri lebih cepat
daripada jawaban untuk ruang kelas yang rusak.
Semen, besi, dan keramik
menjadi bahasa pembangunan
yang terdengar lebih lantang
daripada suara anak-anak
yang ingin belajar dengan aman.
Seakan masa depan lembaga transaksi
lebih mudah diberi tempat
daripada masa depan anak-anak
yang sedang belajar menata hidup mereka.
IV. Takdir Dua Bangunan yang Bertolak Belakang
Kami menyaksikan
betapa kontrasnya takdir dua bangunan
di tanah yang sama.
Mengapa ruang tempat uang berputar
bisa berdiri tegak dalam waktu singkat,
sementara ruang tempat akal budi dibentuk
dibiarkan lapuk dimakan usia?
Gedung sekolah
tidak menghasilkan keuntungan
dalam hitungan bulan.
Ia hanya melahirkan anak-anak
yang tahu cara membaca,
berpikir,
bertanya,
dan bermimpi.
Mungkin karena itulah
ia kerap ditempatkan
di antrean paling belakang.
Sebab hasilnya
tak bisa langsung difoto
untuk laporan capaian kerja harian.
V. Wajah Polos Anak di Hadapan Kenyataan Pahit
Anak-anak itu tetap datang setiap pagi
dengan seragam yang tak selalu putih sempurna,
melintasi bayangan gedung KDMP
yang gagah berdiri.
Mereka menatap dindingnya yang mulus
sebelum masuk ke kelas mereka
yang masih menyimpan debu, lubang,
dan rasa cemas.
Di sana, guru mereka mengajar
dengan kapur yang tersisa seperempat,
menjelaskan tentang konstitusi
dan hak setiap warga negara atas pendidikan.
Namun, di luar jendela,
anak-anak melihat kenyataan yang lain:
bahwa negara bisa begitu sigap
membangun wadah ekonomi,
tetapi lambat menjaga atap kelas mereka
agar tidak roboh.
Bagaimana mungkin sebuah bangsa
bermimpi melompat menuju masa depan,
jika fondasi paling dasar
dari generasi penerusnya
dibiarkan retak?
Merah putih di dinding koperasi itu
memang berkilat membanggakan,
namun merah putih di tiang bendera sekolah
masih kusam dan kaku dihantam angin.
Pendidikan
yang dalam undang-undang ditulis
sebagai hak dasar,
nyatanya masih harus menunggu
di bawah atap yang hampir runtuh.
VI. Suara Hati Kecil yang Terlalu Lama Diabaikan
Kami tidak menolak pembangunan ekonomi
di pelosok desa.
Kami hanya mempertanyakan
nurani di balik penentuan prioritas.
Ketika ruang belajar
harus menunggu bertahun-tahun
untuk diselamatkan,
sementara fasilitas fisik lain
berdiri anggun dalam waktu singkat,
ada yang salah
dengan cara kita memandang nilai manusia.
Jangan biarkan anak-anak kita
percaya pada satu pelajaran pahit:
bahwa angka-angka di buku kas
lebih berharga
daripada ilmu
di dalam kepala mereka.
Sumber/Referensi:
Koran Lombok — SMPN 5 Praya Timur Kehilangan Ruang Kelas dan Lab Demi Gerai Kopdes
RRI — Pemkab Loteng Tata Lahan SMPN 5 Praya Timur untuk Kopdes
Biodata dan Bionarasi Penulis
Khalidah Abdullah adalah seorang penulis muda pemilik blog www.khalidaoway.blogspot.com yang gemar menuangkan keresahan, harapan, dan realitas kehidupan ke dalam puisi bernuansa melankolis. Melalui tulisan-tulisannya, ia berusaha menangkap suara-suara sederhana tentang bertahan hidup di tengah dunia yang semakin melelahkan. Baginya, sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cara untuk merawat empati dan menjaga harapan tetap menyala.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:




