Belakangan ini, banyak lulusan SMK harus menelan kenyataan pahit saat memasuki dunia kerja. Keterampilan yang diasah bertahun-tahun sering kali kalah oleh syarat fisik yang dangkal, pengalaman kerja yang kaku, atau praktik “orang dalam” yang sulit ditembus. Di tengah penolakan demi penolakan, mereka hanya bisa memandangi janji 19 juta lapangan kerja yang kian terasa seperti deretan angka tanpa nyawa.
Puisi ini berangkat dari jeritan para lulusan SMK yang berjuang mencari tempat di dunia kerja, tetapi berulang kali tersandung oleh sistem yang lebih gemar menghitung angka daripada menghargai kemampuan.



o0o
Pagi belum matang benar, tetapi matahari telanjur membakar aspal kota pinggiran.
Sepatu hitam itu retak pada tumitnya.
Semalaman ia menyemir harap.
Bersama sebuah map cokelat lusuh tergenggam erat.
Di dalamnya tertidur selembar kertas berstempel garuda.
Ia berdiri, berbaris rapi.
Bersama ratusan kepala yang menunduk lelah.
Keringat sebesar biji jagung merayap turun dari tengkuk,
menodai kerah kemeja yang mulai menguning.
Menunggu pintu baja itu terbuka.
Kuncinya yang entah kemana.
Nampaknya hanya sia-sia.
o0o
Seketika ia teringat dengan sahabatnya.
Seorang wanita yang ahli meracik kopi.
Tapi nasibnya terhenti oleh seutas meteran.
Suatu pagi
“Seratus empat puluh delapan.”
Suara pewawancara itu mengambang,
dingin membelah ruangan berpendingin.
Matanya memindai lekuk nasib dari ujung sepatu hingga jepit rambut gadis itu.
“Kurang dua sentimeter.”
Dua sentimeter.
Jarak yang tiba-tiba terasa lebih jauh dari pesisir hingga ke ujung benua.
Angka itu memanjang, meninggi, menjelma benteng raksasa yang angkuh.
Keterampilan bertahun-tahun di ruang praktik rontok seketika oleh deret milimeter yang dungu…
Tubuhnya yang mungil,
entah sejak kapan, dihakimi sebagai sebuah kecacatan.

o0o
Gema dari pengeras suara masa lalu kembali berdesing di telinganya.
Sembilan belas juta.
Angka yang sangat gemuk, ranum, dan menggoda penciuman.
Sembilan belas juta keping fatamorgana.
Sembilan belas juta ruang hampa.
Sembilan belas juta ruang rindu bagi peluh yang ingin diteteskan secara terhormat.
Ia pernah melukis angka itu sebagai ladang gandum yang menguning saat panen.
Kenyataannya, ia berdiri mati rasa di tengah gurun.
Lalu, janji itu menjelma kabut pagi.
Sangat indah dipandang mata.
Lenyap seketika saat disentuh.
Angka-angka itu luruh,
membusuk diam-diam bersama tumpukan kertas lamaran di laci meja satpam.
o0o
“Kita adalah barisan angka yang kehilangan pembuatnya,” gumamnya pada bayangan di cermin yang buram.
Gedung menjulang menantang awan.
Celah kehidupan menyempit ke dalam lubang jarum.
Ia menggenggam kertas berisi nilai sempurna.
Praktik mesin: A.
Teori kelistrikan: A.
Nasib: Angka nol yang bolong di tengah.
Selama tiga tahun
Ia telah diajarkan cara untuk bertahan hidup
Meski kini didalam praktiknya ia hanya bisa diam dan menunggu.
Gelar kejuruan ini pelan-pelan berubah wujud menjadi mahkota duri.
Dipersiapkan untuk berlari paling kencang.
Nyatanya tersandung dan terperosok paling dalam di jurang sunyi pengangguran.

o0o
Di serambi rumah, angin malam mengiris sisa hujan.
“Belum ada panggilan lagi, Nak?” Suara serak mengalun lembut dari balik pintu kayu.
“Belum, Pak…” Ia meremas ujung kemeja putihnya yang mulai menguning.
“Atau… Bapak punya kenalan?” bisiknya parau, menelan ludah.
Lelaki tua itu terbatuk pelan, dengan tatapan nanar.
“Kita ini cuma daun kering yang jatuh. Jalan pintas orang dalam itu… cuma milik pohon beringin yang akarnya mencengkeram tanah.”
Titipan nama selalu bergerak lebih mulus dari jalan tol yang baru saja digunting pitanya.
o0o
Malam melarutkan segala keriuhan siang.
Lelatu kecemasan mulai hinggap dan membakar ketenangan kepala.
Ia melipat ijazahnya pelan-pelan.
Menjadi sebuah bentuk pesawat kertas.
Dilemparnya kuat-kuat ke udara.
Pesawat itu meluncur sebentar,
menabrak tembok beton,
lalu menukik tajam ke dalam genangan air selokan kotor.
Hancur.
Basah.
Larut dalam senyap.
Ia menengadah, menatap langit yang perlahan kelabu pekat.
Angin malam mulai menusuk tulang rusuknya.
“Besok,” bisiknya pada udara yang kosong.
“Besok aku akan membeli map lagi…”
Catatan Kaki:
https://megapolitan.kompas.com/read/2026/05/26/12504631/jeritan-lulusan-smk-yang-menganggur-mana-janji-19-juta-lapangan-kerja?page=all#page2
https://megapolitan.kompas.com/read/2026/05/26/10092391/ironi-lulusan-smk-dirancang-siap-kerja-tetapi-jadi-penyumbang?page=all#page2
https://bergelora.com/mendingan-jadi-influencer-aja-lah-jeritan-lulusan-smk-yang-menganggur-mana-janji-19-juta-lapangan-kerja/
Tentang Penulis:
Wahyu Kuncoro, hanyalah sosok biasa yang tidak bisa terbang ataupun meramal masa depan. Keajaibannya tersimpan di larut malam, saat ia merawat kewarasan melalui obrolan panjang dengan dirinya sendiri. Anggaplah puisi-puisinya sebagai oleh-oleh dari perdebatan batin yang sunyi itu. Jangan ragu menyapanya, walau mungkin ia tampak diam karena sedang sibuk berdiskusi di dalam pikiran. Selamat menikmati kepingan kewarasan yang ia bagikan lewat kata-kata. Ia sangat senang kamu menyempatkan waktu untuk membaca ini.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



