Puisi ini terkumpul di buku antologi Temu Penyair Asia Tenggara, pertemuan rutin penyair di Kota Padangpanjang. Bacalah:

Puisi Gol A Gong
BUYA
Tawalib menempa sajadahmu
langit menumpahkan hujan doa
tubuhmu tinggi menuju langit
menyiapkan diri pada gempuran angin
Buya, Buya,
Buya
Warna hatimu berbeda
Ketika udara dingin turun dari wajahmu
Asmaul Husna tak lagi di bulan sabit
meluncur indah dari balik terali
mendoakan khusyuk keselamatan negeri
Buya, Buya,
Buya
Fajar memanggilmu
Jasad itu terbaring penuh derita
mulut dan matamu menetes basah
mengantarkan sang pemersatu menuju senja
mengiringi hati luka ke dalam bumi
Buya, Buya,
Buya
penamu abadi
nama-nama kau tuliskan
doa-doa kau titipkan
menumbuhkan kota harum ini
Buya, Buya
Buya
Alfatihah untukmu

*) Serang 15 Mei 2022
*) Kepada Buya Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah adalah seorang tokoh Islam Indonesia yang terkenal, seorang ulama, sejarawan, sastrawan, dan juga politikus (Pratami, 2020), yang memiliki banyak karya, seperti Tasawuf, Filsafat, Sejarah, Sosial, Budaya, Sastra, dan Pendidikan (Burhanuddin, 2021: 11).
Begitulah rasa hormatku kepada ulama besar negeri ini. Ketika Bung Karno menjebloskannya ke penjara karna berbeda pandangan politik, Buya menulis tafsir Al-Azhar. Kemudian novel-novelnya berlahiran; Di Bawah Lindungan Ka’bah, Kapal van Der Wijk. Kami memestakannya bersama penyair dari seluruh Indonesia.
Gol A Gong


