Pada puisi kedua (Canda-Candaan Penyair). Adalah puisi yang lahir dari rasa kecewa. Terlahir dari rasa yang tidak ingin percaya dengan apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan negara ini. Tentang rusaknya akhlak para pemuda, perceraian dimana-mana, dan isu isu lainya yang mungkin agak getir untuk di paparkan di sini. Namun tentu sebagaimana kebanyakan kita yang ternyata masih bisa tertawa menghadapi kelucuan atau keanehan itu semua. Yang akhirnya menjadikan puisi ini seperti halnya candaan yang menyindir dengan centil agar tak terlihat usil. Yang ditulis seperti sebuah candaan agar tak terkesan selengehan.
Begitu juga 3 puisi lainya yang tentu lahir dari relita hidup yang dapat kita temui dimana-mana. Tentang pengorbanan seorang ibu, tentang bagaimana banyaknya para ibu yang dibiarkan sendirian dengan dalih sibuk oleh para anak. Hingga beberapa ibu atau orang tua yang meninggal tampa seorang pun buah hati mereka menemani detik-detik terakhir mereka. Seperti halnya busur panah yang ditinggalkan oleh anak panah setelah sulitnya busur menariknya. Juga saya tuliskan sebuah puisi yang menjadi gambaran bagaimana sulitnya kehidupan di daerah Palestina. Yang tentu segala kesulitan hidup dapat kita temukan di daerah terjajah tersebut.

Pada akhirnya, puisi-puisi ini hanya menjadi bacaan. Namun saya berharap puisi ini dapat menjadi pengingat dan penggerak bagi pembaca sekalian. Agar gambaran tentang kehidupan yang saya tulis ini dapat menjadi pesan yang tersampaikan dan disampaikan kembali hingga nantinya menjadi sebuah hal dan masalah yang harus di pecahkan bersama dan harus di ingat bersama. Terimakasih dari saya sebagai penulis. Maaf atas setiap kekurangan dan tulisan yang masih jauh dari kesempurnaan.
“Sicerek di tapi banda
Kalau rabah tolong tagakan
Ambo ketek baru baraja
Kalau salah tolong di tunjuakan”
Salam dari Ranah Minang
Tertanda
A N DIKA


