Payung Kertas
By. A N Dika
Di sisi gerbang sekolah kecil di ujung desa.
Kuberteduh dari hujan yang turun dengan ribuan pertanyaan.
Dari pertanyaan tentang luka.
Hingga pertanyaan rumit seperti cinta dan cita-cita.
Para Wali murid datang dengan payung besi dan emas di tangan mereka.
sedangkan ibu datang dengan hujan baru di pipinya.
Bersama payung kertas ia menjemputku pulang.
Ia memeluku, lalu di tengah isak ia ucapkan “Jangan gentar nak”
Payung kertas itu koyak dalam kebanggaan.
Karna berhasil mengantar kami pulang ke gubuk kami yang jauh di sudut harapan.
Namun tetap saja semua hanyalah kesia- siaan.
Karna dalam gubuk itu ada hujan badai yang tak mampu lagi ibu singkirkan.
Ibu tak henti menangis penuh kedukaan.
Harapannya hancur berserakan.
Kini tinggalah kami berdua dengan lilin terakhir yang hampir padam.
Mencoba susunkan payung kertas yang baru dari kertas hasil ibu berutang.
Bukittinggi, September 2023


Canda-candaan Penyair
Oleh. A N Dika
Lihat diriku kisana.
Penuh dengan luka.
Dari salep cina hingga salep cinta, tak ada yang mampu buatnya sirna.
Perjuanganku tak jelas lagi ujung pangkalnya.
Habis sudah silatku.
Hanya menunggu-nunggu, akar di hati ini melapuk dan membunuh penopangnya.
Lihat kampungku.
Penuh dengan bunga.
Ada bunga desa, namun lebih jamak janda muda.
Entah cinta entah selangkangan para pria yang bercanda.
Memang zaman tak lagi sama.
Lihatlah pemuda sebangsaku.
Muka mereka di pasang topeng batu.
Hatinya dihias belenggu.
Mulutnya begitu ringan, hingga sulit kuterka mana asli mana palsu.
Kisana, tak pernah percaya zaman sudah sebercanda itu
Lihat Garudaku.
Yang tak lagi mencintai sangkar emasnya.
Ia mulai hinggap di tangan anak-anak Tionghoa.
Juga gemar mematok rimah di lantai tuan-tuan bule Amerika.
Sudah jadi kesukaan barunya.
Bagiku semua sama saja.
Bagimu seakan-akan samar saja.
Zaman memang sebercanda itu adanya.
Namun suatu hari nanti, entah itu kemarau atau semi.
Tanah air beta akan menemukan tuannya lagi.
Kisana boleh tertawa, karna nyatanya puisiku ini lebih bercanda lagi.
Bukittinggi, September 2023



Tembok Rasial
Oleh. A N Dika
Dalam dingin itu
Ada kampungnya para muhsinin
Tempat hangat kekanak bermukim
Mencoba mengakrabi derai peluru; dibalik tembok Rasial
Mata-mata biru nanar
Memanggil-manggil mimpi yang belum jua berbunga
Kering retak; seperti tapak kaki sang ibu
yang terus mendesak parau angin dalam igauan
Dalam dingin kota Hebron
Terdengar lirih nyanyian kekanak kiryan
Memuji Tuhannya; mengutuk mahluk yang meranggas tanah kecintaan Palestina
Mengasah doa dalam gigil yang nyaris mengusir jiwa
Wahai para penjaga
Simpan lambai gugup jemarimu
Basuh luka lama, sambut luka baru
Dibalik tembok Rasial; bersama pedang terasah dan kekasih yang terisi peluru
Bukittinggi, Oktober 2023


Kasih Paling Dalam
Oleh. A N Dika
Aku ingin menjadi rumah paling tenang bagi rindumu
Menjuluk mentari agar dirimu berada di tempat paling terang; di sisiku
Menanak doa-doa buat kujadikan santap malammu
Wahai ibu; nina bobokan daku dari zaman yang gaduh
Tetapkanku ingat hangatnya air jantungmu
yang mengalir indah bersama derap paling merdu
Saat dekapan itu kau persembahkan pada jiwa yang letih
Saat peluk terkhusyuk itu tersampaikan pada hati yang pedih
Lihatlah rumah gadang yang ringkih
perlahan lapuk di tindih detik waktu
serupa belulang penyangga tubuhmu
sedang bakti belum usai kuserah padamu; ibu
Kau simpan tangis di sudut sunyi
menyimpan guratan yang dalam pada teduh senyumanmu
dan tangan ini bergidik menyilang kayu di perapian jiwa
berharap ia kobarkan hangat seumpama kobar yang nyala di dadamu
Masih kuingat ibu
bilik hangat tempatku tumpahkan air mata kekanak
hangat pelukmu bakar habis segala kalutku
hingga mengabul segala nestapaku
Panjanglah umurmu; temani panjangnya perjuanganku
untuk sebuah kasih paling sayang
dan terima kasih paling dalam yang belum sempat kupersembahkan
Bukittinggi, 8 November 2023


Temaram Sang Nenek
Oleh. A N Dika
Nenek itu menemui dirinya di sisi temaram.
menepi pada tepian kegelisahan.
Meratapi setiap helai gundah yang kian rontok dari kulit kepalanya.
Sendirian; di gubuk kesepian; tempat berteduh nya dari khutbah sang pencabut nyawa.
Satu lilin untuk segala gelap.
Satu hembusan bersama mata yang kian terlelap.
Mengatuplah netra yang menjadi rumah dari ribuan saksi, realita, dan kisah kasih.
Dahaga yang tahkluk, patah lah segala sakit dan sedih.
Esok
Tiada hal
Tampa kata mengapa
Terbaring bersama hening selamanya.
Bukittinggi, May 2023



Tentang Penulis: A N Dika (Andri Andika). Kecambah mimpi yang tumbuh di sebuah lempengan surga yang jatuh ke bumi. Kabupaten Agam Sumatera Barat. Putra asli minangkabau yang memiliki hobi dalam dunia tulis-menulis dan mencintai dunia puisi ini adalah Putra pertamanya uda Ismardi dan uni Desmawati dari 4 bersaudara. Ia telah menghasilkan satu karya antologi puisi yang berjudul “Remedial Cinta”. Semoga apa yang telah di tuliskan pada buku ini mampu merasuk pada rasa. Mampu memberi manfaat dan terukir pada ingat handa selamanya. Terimakasih se besar besarnya. Salam Literasi dari tanah minang. Salam Lestari. Panjang umur puisi. Alamat : Jl. Rabbaini Ahmad, Kec. Ampek Angkek. Kab. Agam, Sumatera Barat. No Hp/wa : 0812-6877-5095. Email : andriandika30@gmail.com. Instagram : @andriandika30 FB : Andri Andika.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


