Puisi Akhmad Sekhu
Hati yang Puisi
: Helwatin Najwa
Hati yang selalu menautkan diri pada puisi
Hati yang penuh dengan cinta kasih sayang
Menyambut tamu seperti saudari sendiri
Seperti matahari yang hangat menerangi bumi
Keramahan yang renyah seperti amplang
Kerupuk ikan tenggiri yang ditambahkan
Rempah-rempah. Teksturnya yang renyah
Sungguh gurih dengan aroma ikan yang sedap
Jika ia berpuisi maka puisinya melesat tinggi
Kita tangkap sebagai isyarat yang tersembunyi
Dalam pemahaman yang menjadi makna terdalam
Mengelilingi seluruh waktu dalam kebersamaan
Jalan para penambang batubara begitu panjang
Aku masih terus mengenangnya sampai sekarang
Seperti baris-baris puisi yang masih aku tulis
Menempuh pemahaman, raih pemaknaan hakiki
Hati yang selalu menautkan diri pada puisi
Hati yang penuh dengan cinta kasih sayang
Melepas tamu seperti melepaskan anak panah
Jauh dari pandangan, dekat di hati yang puisi
Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2024


Puisi Akhmad Sekhu
Rapsodi Laki-Laki yang Melati
Aku pandangi taman dunia begitu penuh warna
Laki-laki yang melati yang mencoba untuk tak ikut
Terbawa arus gelombang zaman yang gemerlapan
Karena terhampar pemandangan yang fatamorgana
Mungkin angin akan terus bertiup mengembuskan
Kabar berita yang membuat merah teliga penguasa
Seiring demonstran yang begitu deras mengalir
Menyadarkan hakekat tahta selalu ada masanya
Di antara percakapan yang begitu riuh rendah
Pergunjingan yang panjang dan tak sudah-sudah
Laki-laki yang melati mencoba untuk memahani
Pada waktunya orang dikenang hanya sebuah nama
Ada yang timbul-tenggelam di tengah masyarakat
Kenyataan hidup memang akan selalu demikian
Tak ada yang abadi, selain suratan takdir Tuhan
Telah digariskan kalau ketenaran hanya sebentar
Selalu setiap zaman ada masanya orang-orang besar
Selalu berkoar-koar mengkampanyekan dirinya terus
Tidak ada yang mau mengalah, apalagi untuk kalah
Laki-laki yang melati mencoba untuk jadi diri sendiri
Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2024

Puisi Akhmad Sekhu
Mata Air Rindu
Aku mencari mata air rindu dari kehampaan
Jiwa gersang. Kota begitu kering kerontang
Tak ada penghayatan, apalagi perenungan
Hidup keseharian yang berlalu tanpa kesan
Orang-orang berangkat kerja penuh kecemasan
Hanya sesaki jalan dengan kendaraan pribadi
Tak pernah saling bertegur sapa semakin asing
Ssemakin menambah parah kemacetan jalan
Dimana lagi aku akan mencari mata air rindu
Kalau kota semakin gaduh dengan ambisi
Berdebat kusir silang pendapat tiada akhir
Yang dipikirkan hanya kelompoknya sendiri
Orang kerja hanya sebatas menjalankan tugas
Tanpa pernah memikirkan dampak lingkungan
Juga alam sekitarnya semakin penuh keterasingan
Semakin menambah beratnya masalah kehidupan
Aku mencari mata air rindu, terus saja mencari
Dulu telah diajarkan ibu untuk saling menjaga
Mata air rindu agar kita bisa saling melebur diri
Lubuk kedamaian dalam sebuah kebersamaan
Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2024


Puisi Akhmad Sekhu
Paras Keikhlasan
Dahan yang terayun-ayun digelayuti embun
Adalah keikhlasanmu dalam menerima takdir
Kau selalu menebar senyum meski kedua pipi
Air bening sering deras mengalir. Kita tahu
Sudah tak terhitung duka derita tanpa pernah
Mengutuki. Juga keluhan yang sebisa mungkin
Kau tahan dalam diam tak pernah dicurahkan
Sedangkan daun bergoyang-goyang diterjang
Angin kencang. Adalah hakekat kemanusiaan
Tak luput dari ujian kesabaran tak berkesudahan
Semasih nadi terus berdenyut, begitu juga hidup
Harus terus diperjuangkan tak pernah bosan
Adapun pohon terus menghimpun kesabaran
Dari pembalakan liar di hutan-hutan terbakar
Sampai datang bencana longsor karena sudah
Tak kuat lagi menahan beban kerakusan zaman
Orang-orang kini sudah tak peduli pelestarian
Yang terpikir hanya mengeruk kekayaan alam
Jatibogor, Suradadi, Tegal, 2024


Puisi Akhmad Sekhu
Darah Asia
: untuk Kamala Harris
Di sebuah negara besar, kau tegak tak sedikit pun gentar
Berada di samping nahkoda berlayar di tengah samudra
Dalam lalu lalang kapal antar bangsa pelayaran dunia
Darah Asia mewariskan jiwa ksatriamu yang perkasa
Angin bertiup sangat kencang menjelang pesta demokrasi
Nahkoda undur diri mendukungmu untuk menggantikan
Kapal harus terus maju dengan sekali merengkuh dayung
Dua benua Amerika – Asia terlampaui dalam kejayaan
Tak peduli meski ada yang memandangmu sebelah mata
Kau tetap terus maju ke depan untuk mendekap harapan
Selangkah berpantang surut, setapak berpantang mundur
Darah Asia bergolak di dada semangatmu terus menyala
Jalan masih panjang untuk buka peluang dan kemungkinan
Besar lawanmu, besar juga dukunganmu saling mengimbangi
Genderang perlawanan sudah ditabuh menghadapi kompetisi
Mendulang suara yang bergema dalam derap kebersamaan
Langkah maju dengan pandangan terus lurus ke masa depan
Optimis meraih yang seharusnya kau raih dengan sepenuh hati
Saatnya impian besar terwujud jadi kenyataan penuh harapan
Darah Asia menorehkan sejarah gemilang pemimpin perempuan
Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2024




TENTANG PENULIS: Akhmad Sekhu lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Buku puisinya; Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Memo Kemanusiaan (2022), Indonesia Negeri Paling Puitis di Dunia (Manuskrip). . Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana “100 Tahun Chairil Anwar” (2022).

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika igin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


