Ada benang merah halus yang ditarik hujan di antara dua jiwa yang rapuh. Fragmennya
tersembunyi dalam sebuah kisah cinta tak utuh. Bermula dari rasa penasaran akan seseorang,
membawanya kepada keberanian untuk terus mendekat, namun, adakalanya keraguan yang lebih
besar muncul membuatnya harus melambat. Takdir memisahkan mereka dengan kesalahpahaman.
Waktu terus berjalan dan memberinya sebuah jawaban, bahwa “Dialah orangnya”. Di bawah
derasnya hujan, ia memutuskan berlari ke masa depan, mencari satu sosok yang hilang, sosok
yang telah lelah menunggu, yang harusnya ia temui lebih awal. Akankah benang itu terputus?
Apakah dia datang terlambat?
Kisah cinta selalu melibatkan aktor utama, membutuhkan tempat, dan waktu perkara, bahkan
terkadang para figuran. Selayaknya sebuah drama, mereka memiliki berbagai genre dengan kisah
happy & sad ending-nya. Sekarang, kencangkan sabuk pengaman! Temukan fragmen yang
hilang! Mari masuk ke dalam kapsul & berimajinasi dalam langit-langit puisi.
Rahmi Asrimiyanti
oOo
Rahmi Asrimiyanti
HUJAN DAN KAMPUS PASANG
Hari pertama di kampus baru semester lima
Seorang mahasiswa pindahan masuk ke kelas
Berbaju hitam terlihat gugup
Siapa tadi namanya? Penasaran
Sampai pulang masih terbayang
Praktikum Akuntansi di siang hari
Penuh drama cocokologi
Mahasiswa dengan kalkulator bermain peran
Berkalut dengan laporan keuangan dan neraca lajur yang tak seimbang
Belajar untuk jadi Akuntan
Laboratorium Komputer di lantai 2 gedung seberang
Bermain dengan satu pengunjung
Berjilbab putih membawa laptop
Bertanya lembut sambil bercanda
“Ada rekomendasi lagu yang kamu suka?”
Teras gedung Teknik di sore hari
Hujan gerimis datang perlahan
Tertahan berdiri menghadap jalan
Aku turun lalu menemaninya terdiam
Setengah jam datang berselang
Mencari jalan menuju pulang
Air tergenang dan kampus pasang
Seandainya aku berani bilang:
“Maukah kau tetap di sini bersamaku menunggu hujan?
Jam pasir bergulir kota berpindah
Asa terakhir belum terukir
Pada banking hall berlatar biru
Mesin EDC dan ruang tunggu
Tahukah kau? Tanggal 31 Desember jam 00.00 waktu itu
Kisah hujanku belum tutup buku!
(Yogyakarta, 2025)
oOo
Rahmi Asrimiyanti
TELEPON DARI MASA LALU
Seorang gadis bersepeda menuruni jalan setapak perbukitan Derbyshire
Rehat sejenak menghirup udara segar lalu memetik lavender biru & bunga mawar
Ia menyimpannya ke dalam keranjang berwarna jingga
Lalu mengayuh sepedanya kencang menuju utara
Edensor hujan di bulan Desember
Di tanah lapang berpagar kayu
Kuda-kuda berteduh di istal
Memandang sepeda usang dan buket kering dalam keranjang
Tidak bertuan tergeletak di tepi jalan berbulan-bulan
Handphone berdering tiba-tiba
Dari kontak tersimpan 1/2 dekade lalu
Iya… Ada apa? Apa kabar? Lagi di mana sekarang?
Katanya “nama kontak temannya sama, maaf tidak sengaja”
Dalam durasi 300 detik
Kampus sekarang libur 3 minggu
Asrama sepi banyak yang pulang
Gadis INFJ penyayang kucing itu
Hanya bersama coklat panas, Quiche mini, dan tumpukan buku
Di perpustakaan, bulan April musim semi
Lagu Utopia “Hujan” berputar pelan di Spotify seseorang
Teman mengetuk, hei bukannya membaca, lagu apa yang kau dengarkan?
Taylor Swift “Enchanted”
– Hujan –
Back to December
Muse “Unintended”
“The One that Got Away” Katy Perry
(Yogyakarta, 2025)
oOo

Rahmi Asrimiyanti
TERLAMBAT DATANG
Satu dekade kemudian
Kapsul waktu membawaku terbang ke masa depan
Bermaksud membawamu ke jalan pulang
Namun, di tempat yang asing itu
Sayangnya, kau tak lagi mengenalku
Dengan Kain Pengembali Waktu Doraemon
Akhirnya aku punya kesempatan
Bicara padamu untuk menjelaskan
Cerita-cerita dahulu yang tak sempat ku sampaikan
Membuang kenangan burukmu di ruang ingatan
Namun, sikapmu seperti mengatakan “Aku tak punya waktu untuk mendengarkan”
Di alam mimpi, cerita ini berakhir indah
Salah pahammu tidak terjadi
Insomniaku tak pernah tumbuh
Pengakuanku tidak terlambat
Cinta itu tak salah tempat
Di abad 22
Ku lihat kau telah menetap
Di sebuah kota futuristik yang sangat menawan
Robot yang ramah, taman vertikal, dan gedung menjulang
Juga kendaraan terbang dan layar penuh hologram
Di musim hujan, di kota masa depan itu
Seseorang berpakaian hitam bersama seorang gadis yang berparas manis
Berteduh memegang payung putih di bawah pohon Maple yang menguning
Duduk berdua bersama terlihat sangat bahagia
Dengan mesin waktu, aku pulang ke masa lalu
Bersama hujan, kembali ke sudut gedung Teknik itu
Tuhan, apakah kisah ini telah berakhir?
(Yogyakarta, 2025)
oOo
Rahmi Asrimiyanti
SEBUAH JAWABAN
Pesawat kami akhirnya mendarat dengan selamat
Kami berdua singgah sebentar ke toko Wagashi membeli Dorayaki
Temanku pulang untuk mengantar Nobita ke sekolah
Pagi yang cerah aku bersiap pergi ke kampus
Di sore hari selesai kelas, di taman belakang universitas
Beberapa teman menghabiskan waktu bersama melepas penat
Membaca buku, meneropong bintang, bercanda, berbincang-bincang
Mau dengar apa katanya?
A : Bulan & bintang termasuk benda langit, bukan?
B : Tentu saja, hanya berbeda jenisnya. Kamu setuju?
A : Kalau bulan, cahayanya redup, aku bisa memandangnya dengan tenang.
Kalau bintang, karena cahayanya sangat terang, jadi aku harus mengintipnya diam-diam.
A : Langit-langit & langit malam berbeda, bukan?
B : Hahaha, tentu saja. Langit kamarku, tanpa teleskop pun, aku dapat melihatnya dari dekat.
Kalau langit malam, bagaimana menurutmu?
A : Huh, terlalu banyak bintang, kecuali kalau hujan.
Tapi, tahukah kau? Dari 1 septiliun bintang, cuma satu yang aku pandang dari kejauhan.
A : Andromeda & Bimasakti, sekarang saling mendekat, ‘kan?
B : Benar sekali, gravitasinya tarik menarik, saling tertarik.
A : Wah, apakah mereka berjodoh?
B : Hey, bagaimana mungkin! 4–5 miliar tahun lagi mereka akan bertabrakan.
A : Benarkah? Terus kita bagaimana?
B : Mungkin sudah punah.
A : Kalau begitu, sebelum semuanya hilang, sebelum hujan meteor datang,
Bolehkah aku mengorbitmu dari sekarang?
B : Kau adalah planet pengembara yang indah, namun lintasan kita tak searah.
Orbitku sudah terpaut pada yang lain, temukanlah jalurmu sendiri.
Awan-awan tiba-tiba mulai bergerak
Langit senja seketika menjadi gelap
Rinai hujan diam-diam turun ke tanah
Memeluk bumi membasuh air mata jatuh di pipi
Orang-orang berlarian ke sana ke mari
Mencari payung menuju ruangan tempat berlindung
Di tengah taman yang penuh dengan Dandelion itu
Seseorang mematung sendirian, kehujanan
Apakah menurutmu ia mendapat penolakan?
(Yogyakarta, 2025)
oOo
Rahmi Asrimiyanti
PINDAH SEMESTA
Di dalam lubang hitam ingatan
Aku mencoba meraihmu kembali sekali lagi
Mengajakmu terbang bersamaku mencari galaksi baru untuk ditinggali
Namun gravitasimu menolak
Seperti badai abadi Jupiter yang tak mau beranjak
Di dalam ruang hening hampa udara, ku lepaskan kenangan itu
Bersama hujan yang turun perlahan di bumi gersangku
Menghapus harapan terakhir yang hampir ku gengam
Seperti Pluto yang mengikhlaskan tata suryanya
Aku bersiap mengenakan pakaian antariksaku
Menyalakan pesawat, mengecek sistem: komunikasi, kontrol, penunjang kehidupan, dan navigasi
Bila memang Venusianku pernah bertabrakan dengan Marismu
Maka mungkin sistem konfigurasi kita memang tidak ditakdirkan bersatu
Aku berlayar menembus hujan dan badai kosmik
Menjelajahi ruang antarbintang-bintang
Setelah melakukan lompatan cahaya ke sekian
Dan dipandu oleh Bintang Biduk sebagai penunjuk arah
Akhirnya aku menemukan eksoplanet asing baru yang tak bernama
Di zona laik huni yang semoga bersedia menyebut namaku sebagai rumahnya
(Yogyakarta, 2025)
oOo

TENTANG PENULIS: Rahmi Asrimiyanti adalah seorang INFJ yang lahir di bulan Desember, di sebuah kota kecil di Kalimantan Barat. Selama hidupnya, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di Kalimantan
dan Yogyakarta. Pernah berkarir di industri perbankan dan lulusan Magister Akuntansi Universitas
Gadjah Mada tahun 2022. Pecinta puisi, buku, kucing, kue coklat, warna hitam, dan pink, juga
film fiksi ilmiah, benda langit, dan flying fox. Baginya, puisi merupakan teman seperjalanan
menuju pencarian momen yang hilang, seseorang yang terlupakan, atau masa depan yang belum
terpecahkan. IG @rahmi.ashri

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


