Puisi Minggu: Duka Manusia Karya Muhzen Den

Duka dalam kehidupan seperti halnya kerinduan yang telah lama dinantikan. Seperti kekasih yang menunggu pasangannya, seperti anak yang menanti orangtuanya, dan seperti petani yang menunggu sawahnya siap panen. Namun, semua itu memerlukan waktu untuk dijumpai, diraih, dan dicumbui.

Duka adalah waktu-waktu yang kosong untuk segera diramaikan, meskipun itu tak mungkin dilakukan. Duka hati yang lara. Duka dalam pandangan yang samar. Suara-suara yang tak didengar, dan kesunyian malam.

Duka dalam memenuhi nafsu pangan, lelah yang berjejalan, dan penantian yang hampa bagi setiap insan manusia. Perasaan yang letih disertai kehilangan pada duka-duka lainnya.

Muhzen Den

Puisi Muhzen Den
DUKA MALAM

Kudakuda nafsu berpacu
Menerjang tabir duka
Melucuti setiap gemulai tubuh
Mengejar rodi yang lembur

Satu persatu lenguh lembu
Antre di ujung waktu
Saat ayunan kudakuda
Berpaling meniduri lubanglubang jahanam

Cengkong, Agustus 2025

oOo

Puisi Muhzen Den
DUKA SUBUH

Persinggahan malam telah berlalu
Dalam kidung subuh
Berjejalan rindurindu tubuh
Pada lekat napas dan nafsu

Seumpama waktu bertutur
Menarik segala peluh dan riuh
Dukamu akan berpacu
Dalam lelah yang pilu

Cengkong, Agustus 2025

oOo

Puisi Muhzen Den
DUKA PAGI

Aroma liur menebar peluh
Pada api timur yang mengintip
Hirukpikuk waktu berhamburan di kepala
Tentang alur aspal dan antrean luka

Sementara sahutan namanama
Membenci di setiap umpatan
Seolah gerombolan burung bersiul
Menyanyikan lagu keributan susu

Cengkong, Agustus 2025

oOo

Puisi Muhzen Den
DUKA SIANG

Peluh di ubunubun
Beririsan dengan bulir lelah
Tentang siapa yang menabur
Tepung duka kehidupan

Sepanas api duabelas
Menghantui gerak lelaku
Orangorang bertubrukan di ujung lambung
Meminta keseriusan pangan dan dahaga

Cengkong, Agustus 2025

oOo

Puisi Muhzen Den
ANAK PETANI YANG MENYUSURI SUNGAI DAN SAWAH
Untuk Alm. Abdul Salam HS

Ada anak petani menggendong harapan tentang batubatu sungai, rumput ilalang, dan sekotak sawah di bibir jurang. Tangan kanannya mengais udara pekat cerobong pabrik. Memintal benang kusut dari warisan bapak yang tak tuan.

Anak petani mulai menggarap abjad dari bukubuku usang sisa semalam. Kelak, setiap huruf dan angka menjelma teman di ruangruang sunyi. Namanama tokoh besar disimpannya pada kantong susut diterbangkan zaman. Memindahkan mimpi kampung halaman yang dimakan kebodohan dan kebohongan elite.

Anak petani bermuram durja pada aksara yang melambungkan nama dan pikirannya menembus batas duniawi. Doadoa sungai dan sawah di seberang pandangan tak pernah sirna dari tujuan. Meski lelah tubuhnya berontak meninggalkan jiwa nan kembara.

Anak petani tetap menyimpul senyum bagi orangorang waras yang bertemu-sapa dalam ingatan semu. Sebab, kenangannya jadi azimat bagi cinta dan rindu pasangan yang mengharapkan kegembiraan rumah. Anak petani menyusuri relung jalan pulang. Namun, tak pernah juga kembali pada hirukpikuk bumi yang semakin nyeri.

Cengkong, Agustus-September 2025

oOo

Puisi Muhzen Den
DEWAN BAJINGAN

Bukan kutu loncat menyeberangi rambu usang. Seekor bajing berjingkrak di mejameja kantor dan ruang siang. Memainkan undangundang demi makan sebiji zarah yang menunjang kepala rakyat. Katakatanya serupa ingatan kosong. Tak beraksara yang dijadikan tumpuan juang. Hanya hasrat papa dan uang melimpah. Dilipatnya surat perseteruan upah. Padahal susah makan dan kerja hari ini tak dihiraukan.

Protesprotes warga di ruangruang beton. Meminta kepastian janji tak kunjung nyata. Dewan bajingan purapura pada lupa manis bibir dan senyum dusta. Wakil yang menjelma majikan untuk dilayani tuannya. Padahal upeti telah dimakan foyafoya. Mabuk anggur. Mabuk dunia. Mabuk kuasa.

Rakyat melata di gigir jurang kemiskinan dan kelaparan.
Memintal harapan usang di meja dan kursi perwakilan.

Cengkong, Agustus-September 2025

oOo

PUISI MINGGU : Mulai Januari 2026, Redaksi menyediakan honor Puisi Minggu Rp 150.000,- Terbit setiap dua Minggu. Sebulan 2 kali. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 150.000,- Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==