Pengantar Penyair: Menulis dan Berpikir
Dulu, saya merasa bahwa menulis puisi adalah suka-suka saja. Sembarang tumpah. Suatu kala, saya menghadiri acara Parade Baca Puisi 237 Tahun Kota Pekanbaru. Saya termasuk paling muda di sana, karena rerata penyair yang diundang adalah berusia di atas 40 tahun.
Kala itu, puisi yang dibacakan wajib berkenaan dengan kota. Salah satu penyair membaca puisi yang di dalamnya ada kata Panam, Jalan Sudirman, dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya telah ada di kota ini lebih dari 10 tahun, namun puisi-puisi saya jauh ke bulan, ke matahari, negeri-negeri jauh, sehingga alpa menjengkali area yang tiap hari saya lalui ke dalam puisi.
Kali itu saya sadar, sudah saatnya menulis dan menjejak bumi. Mengamati sekitar, dan memusar kata di dalamnya, agar pengalaman hidup tidak begitu satu pudar, menghilang. Selamat menikmati lima puisi saya tentang Palestina
Bumi Kualu Damai V, Februari MMXXIV
Muhammad Asqalani eNeSTe



